Tampilkan postingan dengan label Surat ke-001: Al Fatihah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat ke-001: Al Fatihah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Agustus 2017

Q002037003 (surat Al-Baqarah, Ayat ke-37, Kata "min")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

فأزلَّهما الشّيطٰنُ عنها فأخرجَهما ممّا كانا فيهِ ۖ وقلنَا اهبطُوْا بعضُكم لبعضٍ عدوٌّ ۖ ولكم فى الأرضِ مستقرٌّ ومتٰعٌ إلىٰ حينٍ (QS 2:36)

فتلقَّىٰٓ ءادمُ مِن رّبّهِۦ كلمٰتٍ فتابَ عليهِ ۚ إنّهُۥ هوَ التّوّابُ الرّحيمُ (QS 2:37)

Alhamdulillahi wasyukurillahi 'alaa ni'matillahi. Segala puji dan syukur bagi Allah atas segala nikhmat, baik nikhmat iman, nikhmat Islam dan nikhmat kelezatan dunia yang Allah berikan pada kita. Salawat dan salam kita ucapkan kepada junjungan kita, Nabi dan Rasul yang mulia Muhammad SAW dan keluarga Beliau, kepada para Sahabat RA, para Tabi'in, Tabiut Tabiahum dan kepada semua ummat Islam dimanapun berada sepanjang zaman. Semoga kita semua dapat senatiasa istiqamah menegakkan ajaran Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Ayat ke-37 surat Al-Baqarah ini terdiri dari beberapa bagian kalimat sebagai berikut:
  • Kemudian Adam menerima = فتلقَّىٰٓ ءادمُ
  • beberapa kalimat dari Tuhannya, = مِن رّبّهِۦ كلمٰتٍ 
  • maka Allah menerima taubatnya. = فتابَ عليهِ ۚ
  • Sesungguhnya Allah = إنّهُۥ هوَ 
  • Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. = التّوّابُ الرّحيمُ 

Jika Allah menghendaki atau insya Allah (إن شاء الله atau kalau dilatenkan "in syaa-a Allaah"), pada hari ini kita akan membahas kata ke-3 dari ayat ke-37 surat Al-Baqarah, yaitu kata atau huruf min (مِنْ) = dari.

Sebelumnya sudah kita bahas tentang huruf jarr bahwa huruf jar dalam bahasa indonesia lebih dikenal dengan kata depan; (di, ke, dari, atas dll). Disebut huruf jar karena fungsinya adalah menjadikan kata setelahnya menjadi majrur. Ulama Lughah atau ahli bahasa Arab di kota Basroh (Syam)  menamakannya dengan "Huruf jar", sedangkan Ulama Lughah di kota Kufah (Irak) menamakannya dengan "Huruf Khafdh", sebagian mereka menamakannya dengan "Huruf Idhafah".

Kita ketahui bersama,  diantara keistimewaan bahasa arab dibanding dengan bahasa selainnya adalah bahwasannya bahasa arab memilki makna yang luas, dimana satu kata dalam bahasa arab bisa memilki banyak makna. Contohnya adalah pada huruf jar yang akan kita pelajari kali ini. Para ulama mengumpulkan huruf jar sebanyak 20 huruf dengan pembagiannya menjadi 3 macam :
  1. Huruf yang tidak khusus berfungsi sebagai huruf jar, maksudnya terkadang sebagai fi'il, yaitu terdapat 3 huruf : (عدا، خَلا، حاشَ) dan terkadang sebagai isim, yaitu terdapat 4 huruf: (الكَاف، عَلى، عَن، مُذ / مُنذُ)
  2. Huruf jar yang "syadz" masksudnya maknanya yang menyimpang dari makna aslinya. Yaitu terdapat 4 huruf: (كَي، مَتى، لَعَلّ، لَولَا)
  3. Sisanya adalah huruf jar asli yang khusus digunakan sebagai huruf jar. Yaitu 9 huruf adalah: (مِن، إلى، فِى، الباء، اللام، حَتّى، الواو، التاء، ربّّ)

Arti dari masing-masing huruf jarr asli ini adalah sebagai berikut:
  1. Min (مِنْ)  = dari
  2. Ilaa (إِلىَ ) = ke atau sampai
  3. 'An (عَنْ) = dari, kadang sebagai isim
  4. 'Alaa (عَلىَ) = di atas, kadang sebagai isim
  5. Fii (فِى) = di dalam
  6. Rubba (رُبَّ) = banyak/sedikit
  7. Al-baa (ب) = dengan
  8. Al-kaf (ك)  = seperti, kadang sebagai isim
  9. Al-laa (ل) = milik/kepunyaan

Jadi kata atau huruf min (مِن) pada ayat ke-37 surat Al-Baqarah ini adalah huruf jarr, yaitu huruf yang mengkasrahkan atau menjarkan atau memajrurkan kata setelahnya. Kata atau huruf jarr min (مِن) bersama isim majrur setelah min (مِن) pada ayat ke-37 ini merupakan muta'alaq (berhubungan) dengan kata kerja talaqqaa (تَلَقَّى) sebelumnya. Kata min (مِن) di dalam Al-Qur'an terdapat sebanyak 1030 kali, sedangkan huruf jarr min (مِن) untuk semua kemungkinan awalan dan/atau akhiran terdapat sebanyak  ribuan kali.

1.0. Indek = Q002037003
1.1. No surat = 2
1.2. No ayat = 37
1.3. No kalimat = 3
2.0. Qur'anic = مِنْ
2.1. Tarjamah = dari
2.2. Jenis kalimat = حرف
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 = 
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan2 =
5.0. Akhiran1 = 
5.1. Tarjamah = 
5.2. Jenis kalimat = 
5.3. Akhiran2 = 
5.6. Akhiran3 = 
6.0. Asal kalimat = مِن
6.1. Tarjamah = dari
6.2. Jenis kalimat = حرف
7.0. Akar kalimat = 
7.1. Tarjamah = 
7.2. Jenis kalimat = 

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

Wassalam


References:

  1. http://www.almaany.com/quran/2/37/3/
  2. http://corpus.quran.com/treebank.jsp?chapter=2&verse=37&token=1
  3. http://tanzil.net/#search/quran/مِنْ

Jumat, 12 Februari 2016

Q001007009 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-7, Kata "adh-dhaallina")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يومِ الدّينِ

إيّاكَ نعبدُ وإيّاكَ نستعينُ

اهدِنَا الصّرٰطَ المستقيمَ

صرٰطَ الّذينَ أنعمتَ عليهم غير المغضوبِ عليهم ولا الضّآلّينَ

Insyaa' Allah hari ini kita akan menyelesaikan pembahasan surat Al-Fatihah, ayat ke-7, kata terakhir yaitu kata adh-dhaalliina (الضّآلِّينَ) = mereka yang sesat.

Kemaren kita sudah membahas kata walaa (ولا) = dan bukan. Huruf wa (و) merupakan huruf athaf atau huruf penyambung dua kata atau lebih yang mempunyai harakat akhir yang sama. Sedangkan huruf laa (لا) merupakan huruf laa nafiyah yang berfungsi menidakkan atau menafikan. 

Hari ini pembahasan kita adalah kata adh-dhaalliina (الضّآلِّينَ) yang terdiri dari awalan huruf alif lam (ال) = yang, kata isim shifat dhaalli‎ (ضآلِّ) = sesat, dan dhamir nahnu yang berfungsi sebagai subjek -ina (ـينَ) = mereka. 

Pada ayat ke-7 ini, Isim shifat dhaali (ضآلِّ) majrur atau kasrah pada huruf terakhir li karena isim maghdhuubi (مغضوبِ) yang dihubungkan oleh huruf athaf wa (و) juga majrur. Sementara huruf athaf wa (و) menghubungkan dua kata atau lebih yang mempunyai harakat huruf akhir yang sama (disebut juga sebagai tabi').

Kata isim shifat adh-dhaalliina (ضالِّينّ) terdapat sebanyak 14 kali, sedangkan akar kata dhalala (ضلل) terdapat sebanyak 189 kali di dalam Al-Qur'an.

1.0. indek = Q001007009
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 7
1.3. no kalimat = 9
2.0. Qur'anic = ٱلضَّآلِّينَ
2.1. Tarjamah = orang-orang yang sesat
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = ال
3.1. Tarjamah = yang
3.2. Jenis kalimat = حرف
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = ينَ
5.1. Tarjamah = mereka, orang-orang
5.2. Jenis kalimat = إسم
5.3. Akhiran2 = 
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = ضَالّ
6.1. Tarjamah = sesat
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = ضلل
7.1. Tarjamah = (dia laki2 telah menjadi) sesat - (he has gone) astray
7.2. Jenis kalimat = فعل

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.


--

Salaaman,


Aba Abdirrahim

Kamis, 11 Februari 2016

Q001007008 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-7, Kata "walaa")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يومِ الدّينِ

إيّاكَ نعبدُ وإيّاكَ نستعينُ

اهدِنَا الصّرٰطَ المستقيمَ

 صرٰطَ الّزينَ أنعمتَ عليهم غير المغضوبِ عليهم ولا الضّآلّينَ

Insyaa' Allah hari ini kita akan membahas kata ke-8 ayat ke-7 dari surat Al-Fatihah, yaitu kata walaa (وَلَا) = dan tidak.

Kemaren kita telah mengulang kata 'alaihim (عليهم) = atas mereka, yang berasal dari kata 'alaa (على) = atas, yang merupakan salah satu huruf jarr. Beberapa hari sebelumnya kita juga sudah membahas kata alladziina (الّدين) = yang (orang-orang), yang merupakan isim maushuul (مَوْصُوْلُ) = kata sambung atau penghubung. Hari ini kita akan membahas dua macam jenis kata huruf, yaitu huruf athaf (عَطْف) atau huruf sambung atau penyambung wa (وَ) dan huruf nafii (نَفْي) atau huruf mengingkari, menidakkan atau menafikan laa (لَا).

Meskipun sama-sama sebagai kata sambung, huruf athaf berbeda dengan isim maushuul karena huruf athaf sekedar menggabungkan dua kata atau lebih yang mempunyai 'irab atau perubahan harakat huruf akhir yang sama (tabi'). Sedangkan isim maushuul berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Kata isim maushuul kata sambung alladzii/allatii baik untuk laki, sendiri, dual maupun jamak, artinya "yang" atau yang satu orang, yang 2 orang atau yang orang-orang, sesuai dengan jumlahnya di dalam kalimat. Sementara huruf athaf ada lima dan artinnya sebagai berikut:

1. Wa (وَ) = dan
2. Fa (فَ) = kemudian - tanpa jeda
3. Summa (ثُمَّ) = kemudian - disertai adanya jeda
4. Au (أَوْ) = atau - menunjukkan ketidak jelasan
5. Am (أَمْ) = ataukah - menuntut kejelasan.

Sementara huruf laa (لَا) ada dua jenis atau macam, yaitu laa nahiyah dan laa nafiyah. Laa nahiyah adalah huruf لاَ yang berfungsi untuk melarang (diartikan jangan). Sedangkan laa nafiyah adalah huruf لاَ yang berfungsi untuk menafikan (diartikan tidak atau bukan).

Kata kita hari ini adalah walaa (ولا) = dan tidak/bukan, adalah gabungan huruf athaf wa dan huruf laa nafiyah. Keduanya merupakan huruf mabni yaitu huruf atau kata yang tidak berubah harakatnya diluar atau didalam kalimat.

Kata wa (وَ), laa (لَا) maupun walaa (وَلَا) merupakan huruf bermakna, yang mempunyai makna sendiri, jadi tidak mempunyai akar kata. Kata walaa (ولا) terdapat sebanyak 706 kali di dalam Al Qur'an. 

1.0. indek = Q001007008
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 7
1.3. no kalimat = 8
2.0. Qur'anic = وَلَا
2.1. Tarjamah = dan tidak
2.2. Jenis kalimat = حرف
3.0. Awalan1 = وَ
3.1. Tarjamah = dan
3.2. Jenis kalimat = حرف
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = لَا
6.1. Tarjamah = tidak, bukan
6.2. Jenis kalimat = حرف
7.0. Akar kalimat = 
7.1. Tarjamah = 
7.2. Jenis kalimat = 


Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.


--

Salaaman,


Aba Abdirrahim

Rabu, 10 Februari 2016

Q001007007 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-7, Kata "'alaihim")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يومِ الدّينِ

إيّاكَ نعبدُ وإيّاكَ نستعينُ

اهدِنَا الصّرٰطَ المستقيمَ

صرٰطَ الذينَ أنعمتَ عليهِم غير المغضوبِ عليهِم ولا الضّآلّينَ

Insyaa' Allah kata kita hari ini adalah kata ke-7 ayat ke-7 dari surat Al-Fatihah, yaitu kata 'alaihim (عليهِم) = atas mereka. Kata 'alaihim ini sudah kita bahas sebelumnya pada kata ke-4 ayat yang sama dan tidak ada yang beda, semuanya (pembahasan harakat dan perubahan) sama. Tetapi berbeda orang-oranya (kumpulan atau tipe orangnya) meskipun sama artinya.

Jadi kita akan bahas kembali beberapa kata sebelumnya, terutama mengenai kata istitsna (pengecualian) ghairi. Kata ghairi (غير) berarti bukan, selain atau kecuali. Fungsi kata pengecualian adalah untuk mengecualikan kata isim sebelumnya (mustatsna minhu) kepada kata isim sesudahnya (mustatsna).

Pada ayat ke-7 surat Al-Fatihah, kata isim sebelum (mustatsna minhu) ghairi adalah 'alaihim (atas mereka) yaitu atas mereka telah Engkau beri nikhmat (an'amta 'alaihim) Engkau telah menganugerahkan/beri nikhmat atas mereka. Sedangkan kata isim sesudah (mustatsna) ghairi adalah al-maghdhuubi 'alaihim yaitu yang dimurkai atas mereka. Jadi kata ghairi disini menjelaskan pada kita bahwa atas mereka yg diberi nikhmat bukan atas mereka yang dimurkai. Kata 'alaihim sebelum ghairi ada mereka yang diberi nikhmat sedangkan kata 'alaihim setelah ghairi ini adalah mereka yang dimurkai.


1.0. indek = Q001007007
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 7
1.3. no kalimat = 7
2.0. Qur'anic = عَلَيْهِمْ
2.1. Tarjamah = atas mereka
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = هـِمْ
5.1. Tarjamah = mereka 
5.2. Jenis kalimat = إسم
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = عَلَى
6.1. Tarjamah = atas
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = على
7.1. Tarjamah = atas
7.2. Jenis kalimat = إسم


Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.


--

Salaaman,


Aba Abdirrahim

Selasa, 09 Februari 2016

Q001007006 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-7, Kata "al-maghdhuubi")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يومِ الدّينِ

إيّاكَ نعبدُ وإيّاكَ نستعينُ

اهدِنَا الصّرٰطَ المستقيمَ

صرٰطَ الذِينَ أنعمتَ عليهم غير المغضوبِ عليهم ولا الضّآلِّينَ

Insyaa' Allah hari ini kita akan membahas kata ke-6, ayat ke-7 dari surat Al-Fatihah, yaitu kata al-maghdhuubi (المَغْضُوبِ) = yang dimurkai.

Kemaren sudah kita bahas bahwa kata ghairi (غير) adalah kata pengecualian (kata istitsna) terhadap kata isim sebelum (mustatsna minhu) dan atau kepada kata isim sesudahnya (mustatsna). Isim mustatsna setelah kata ghairi wajib/harus majrur pada huruf terakhirnya, berdasarkan dalil kata istitsna (pengecualian) ghari ini. Dengan demikian kata ke-6 ayat ke-7 surat Al-Fatihah ini, yaitu al-maghdhuubi (المغضوبِ) menjadi majrur/kasrah di huruf bi-nya.

Sebelum kita bahas asal kata dari terlebih dahulu kita bahas tuntas semua perubahan kata kerja fi'il madhi (kata kerja telah lampau), fi'il mudhari' (kata kerja sedang, akan dan senantiasa) dan fi'il amar (kata kerja perintah) dari kata kerja 'abada (عَبَدَ) = dia laki2 telah menyembah, serta perubahan lainnya sebagai berikut:

1. Fi'il madhi: عَبَدَ = (dia laki2 telah) menyembah
2. Fi'il mudhari': يَعْبُدُ = (dia laki2 sedang, akan dan senantiasa) menyembah
3. Isim Masdar (kata yang tidak tergantung waktu): عَبْدًا = penyembahan/peribadatan
4. Fi'il amar: أُعْبُدْ = sembahlah!
5. Fi'il nahi: لَاتَعْبُدْ = jangan menyembah
6. Isim Fa'il (subjek): عَابِدٌ = yang menyembah
7. Isim Maf'ul (objek): مَعْبُوْدٌ = yang disembah

Kata al-maghdhuubi (المغضوب) terdiri dari kata al- (ال) dan kata maghdhuubi (ِمغضوب). Dari contoh perubahan no 7 di atas untuk rumus atau wazan kata isim maf'ul, maka kata maghdhuubi berasal dari kata isim maf'ul (objek) maghdhuubun (مغضوبٌ) = yang dimarahi/dimurkai. 

Kata maghdhuubi di dalam Al-Qur'an hanya terdapat dalam ayat ini, sedangkan akar kata ghadhiba (عضب) terdapat sebanyak 24 kali.   

1.0. indek = Q001007006
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 7
1.3. no kalimat = 6
2.0. Qur'anic = ٱلْمَغْضُوبِ
2.1. Tarjamah = yang dimurkai
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = ال
3.1. Tarjamah = yang
3.2. Jenis kalimat = حرف
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = مَغْضُوب
6.1. Tarjamah = yang dimurkai
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = َغَضِب
7.1. Tarjamah = (dia laki2 telah) murka, marah
7.2. Jenis kalimat = فعل

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.



--

Salaaman,


Aba Abdirrahim

Senin, 08 Februari 2016

Q001007005 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-7, Kata "ghairi")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.


بسمِ اللهِ الرّحمٰنٍ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يومِ الدّينِ

إيّاكَ نعبدُ وإيّاكَ نستعينُ

اهدِنَا الصّرٰط َالمستقيمَ

صرٰطَ الذينَ أنعمتَ عليهم غير مغضوبِ عليهم ولا الضّآلّينَ

Insyaa Allah hari ini kita akan membahas kata ghairi (غَيْرِ) = bukan, yaitu kata ke-5 dari ayat ke-7 surat Al-Fatihah.

Sebelumnya kita bahas dulu sedikit tentang kata atau alat untuk mengecualikan atau dalam istilah bahasa Arab disebut adatul al-istitsnaa' (أدَاةُ الإِسْتٍثْنَاء) = alat pengeculian. Kata atau alat pengecualian ini digunakan untuk mengecualikan isim (kata benda atau sifat) sebelumnya dengan isim sesudahnya. Isim sesudah kata pengecualian disebut al-mustatsnaa (المُسْتَثْنَى), sedangkan kata isim sebelumnya disebut al-mustatsnaa minhu (المستثنى مِنْهُ). Ada 6 atau 8 kata atau alat pengecualian ini, salah satunya adalah ghair (غَيْر). Semua kata atau alat pengecualian ini artinya sama semua yaitu kecuali, selain atau bukan. Perubahan harakat atau 'irab kata ghair ini mengikuti kedudukannya dalam kalimat, bisa saja menjadi ghairu (غيرُ), ghaira (غيرَ) atau ghairi (غيرِ). Isim mustatsna selalu majrur yaitu berharakat kasrah atau kasratain dihuruf akhirnya jika menggunakan kata/alat pengecualian ghair (غير) ini.

Kata ghair (غير) pada ayat ke-7 surat Al-Fatihah ini merupakan badal (kata ganti) dari kata aladzi, dengan demikian 'irab kata ghair menjadi majrur atau kasrah pada huruf akhirnya - ghairi (غَيْرِ).

Huruf kedua yaitu yaa' (ي) adalah huruf 'illat (penyakit), sebagaimana telah kita bahas sebelumnya bahwa huruf 'illat yaa' (ي) berubah menjadi alif (ا) jika posisinya di tengah. Dengan demikian, kata ghair (غير) di dalam kamus dilihat pada kata ghaara (غَارَ).

Di dalam Al-Qur'an terdapat sebanyam 61 kali akar kata غير dan 154 kali kata ghairi (غيرِ).

1.0. indek = Q001007005
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 7
1.3. no kalimat = 5
2.0. Qur'anic = غَيْرِ
2.1. Tarjamah = bukan
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = غَيْر
6.1. Tarjamah = bukan, selain, kecuali
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = غير
7.1. Tarjamah = (dia laki2 telah) cemburu
7.2. Jenis kalimat = فعل

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.



--

Salaaman,


Aba Abdirrahim

Minggu, 07 Februari 2016

Q001007004 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-7, Kata "'alaihim")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يومِ الدّينِ

إيّاكَ نعبدُ وإيّاكَ نستعِينُ

اهـدنَا الصّرٰط المستقيمَ

صرٰط الّذينَ أنعمتَ عليهـِم غير مغضوبِ عليهـِم ول الضآلّينَ

Insyaa' Allah hari ini kita bahas kata ke-4 ayat ke-7 surat Al-Fatihah, yaitu kata 'alaihim (عليهِم) = atas mereka.

Kemaren sudah kita bahas kata dhamir baik sebagai subjek maupun objek pada kata kerja fi'il madhi (kata kerja yang lampau), fi'il mudhari' (kata kerja sedang, akan dan senantiasa/kebiasaan) dan fi'il amar (kata kerja perintah).

Beberapa hari yang lewat kita juga sudah membahas kata harfun jarr atau huruf jarr, yaitu huruf yang mengkasrahkan kata isim (kata benda atau sifat) setelahnya. Yang termasuk harf Jarr adalah بِ  (dengan), لِ (untuk), فِيْ (di, dalam), عَلَى (atas), إِلَى (ke), مِنْ (dari), كَـ (bagai), حَتَّى (hingga), وَ / تَـ  untuk sumpah (demi ...).

Jadi kata 'alaihim (عليهِم) = atas mereka, terdiri atas huruf jarr 'alaa (على) = atas, dan dhamir orang ketiga jamak hum (هُـم) = mereka.

Perlu di-ingat bahwa dhamir termasuk isim mabni yaitu yang keadaan/huruf akhirnya tidak mengalami perubahan walaupun diletakkan pada posisi yang berbeda dalam suatu kalimat.

Perubahan atau penggunaan kata dhamir him (ـهـِم) pada kata 'alaihim (عليهِم) bukan dari kata dhamir hum (هـُم) karena huruf jarr 'alaa (على), tetapi karena perbedaan Qira'at (bacaan). 

Sebagaimana kita ketahui bahwa awalnya Al Qur'an tanpa tanda baca (titik satu, titik dua, titik tiga) dan tanpa tanda vokal/harakat (kasrah, fathah, dhammah, dll). Berdasarkan Qira'at yang ada, maka kata عليهم ini ada yang dibaca 'alaihim, ada juga yang dibaca 'alaihum dan ada juga yang dibaca 'alaihimu, dimana semuanya mempunyai arti yang sama yaitu "atas mereka".

Kata عليهم di dalam Al Qur'an terdapat sebanyak 224 kali.

1.0. indek = Q001007004
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 7
1.3. no kalimat = 4
2.0. Qur'anic = عَلَيْهِمْ
2.1. Tarjamah = atas mereka
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = هـِمْ
5.1. Tarjamah = mereka 
5.2. Jenis kalimat = إسم
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = عَلَى
6.1. Tarjamah = atas
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = على
7.1. Tarjamah = atas
7.2. Jenis kalimat = إسم


Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.



--

Salaaman,


Aba Abdirrahim

Sabtu, 06 Februari 2016

Q001007003 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-7, Kata "an'amta")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يومِ الدّينِ

إيّاكَ نعبدُ وإيّاكَ مستعِينُ

اهـدنَا الصّرٰطَ المستقيمَ

صرٰطَ الذينَ أنعمتَ عليهـم غيرِ المغضوبِ عليهـم ولا الضآلّينَ

Insyaa' Allah hari ini kita lanjut dengan kata an'amta (أنعمتَ) = Engkau (telah) menganugrahkan/beri nikhmat, kata ke-3 ayat ke-7 surat Al-Fatihah.

Kemaren sudah kita bahas kata sambung alladzi (untuk kata berjenis laki2), allatii (untuk kata berjenis perempuan) dan semua perubahan terhadap jumlah yaitu dual atau jamak. Semua kata sambung alladzii/allatii ini artinya "yang" atau yang satu orang, yang 2 orang atau yang orang-orang, sesuai dengan jumlahnya di dalam kalimat.

Sebelum kita bahas kata an'amta (أنعمت) terlebih dahulu kita tuntaskan pembahasan dhamir (kata ganti orang) baik sebagai rafa' (subjek) maupun nashab (objek). Sudah kita sebutkan bahwa dhamir ada 14 tapi 2 dhamir sama, lengkapnya sbb:

‎1. هو = huwa (dia lelaki - tunggal)

2. هما = humaa (dia lelaki - dua)

3. هم = hum (mereka lelaki - banyak)
‎4. هي = hiya (dia perempuan - tunggal)
‎5. هما = humaa (dia perempuan - dua)
‎6. هن = hunna (mereka perempuan - banyak)
‎7. أنت = anta (kamu lelaki - tunggal)

8. أنتما = antumaa (kamu lelaki - dua)

9. أنتم = antum (kalian lelaki - banyak)
‎10. أنت = anti (kamu perempuan - satu)

11. أنتما = antumaa (kamu perempuan - dua)

12. أنتن = antunna (kalian perempuan - banyak)
‎13. أنا = ana (saya lelaki atau perempuan)

14. نحن = nahnu (kami atau kita lelaki atau perempuan)

Humaa (dia laki2/perempuan -dua) dan antumaa (kamu laki2/perempuan -dua) sama, namun nanti akan berbeda kalau sudah bersambung dengan fi'il (kata kerja). Kita akan guna penomoran 1 sd 14 tersebut sebagai nomor contoh penggunaan dhamir baik sebagai rafa' maupun nashab pada salah satu kata kerja yang sudah kita bahas, yaitu kata عَبَدَ (fi'il madhi), يَعْبُدُ (fi'il mudhari') dan اُعْبُدْ (fi'il amar):

1. عَبَدَ (dia laki2 telah menyembah) dan يَعْبُدُ (dia laki2 sedang, akan dan senantiasa menyembah)
2. عَبَدَا dan يَعْبُدَانِ
3. عَبَدُوْا dan يَعْبُدُوْنَ
4. عَبَدَتْ (dia perempuan telah menyembah) dan تَعْبُدُ (dia perempuan sedang, akan dan senantiasa menyembah)
5. عَبَدَتَا dan تَعْبُدَانِ
6. عَبَدْنَ dan يَعْبُدْنَ
7. عَبَدْتَ (kamu laki2 telah menyembah), تَعْبُدُ (kamu laki2 sedang, akan dan senantiasa menyembah) dan اُعْبُدْ (kamu laki2 menyebahlah)
8. تَعْبُدَانِ ,عَبَدْتُمَا dan اُعْبُدَا
9. تَعْبُدُوْنَ ,عَبَدْتُمْ dan اُعْبُدْوْا
10. عَبَدْتِ (kamu perempuan telah menyembah), تَعْبُدَانِ (kamu perempuan sedang, akan dan senantiasa menyembah) dan اُعْبُدِيْ (kamu perempuan menyembahlah)
11. تَعْبُدَانِ ,عَبَدْتُمَا dan اُعْبُدَا
12. تَعْبُدْنَ ,عَبَدْتُنَّ dan اُعْبُدْنَ
13. عَبَدْتُ (saya telah menyembah) dan أَعْبُدُ (saya sedang, akan dan senantiasa menyembah)
14. عَبَدْنَا (kami telah menyembah) dan نَعْبُدُ (kami sedang, akan dan senantiasa menyembuh)

Seperti sudah kita bahas sebelumnya bahwa fi'il amar hanya untuk orang kedua, karena perintah diberikan oleh orang pertama (anaa dan nahnu) sebagai pembicara (mutakallim) kepada orang kedua (kamu/kalian laki2/perempuan) sebagai yang diajak bicara (mukhatab).

Kata kita hari ini adalah an'amta (أنعمتَ) merupakan fi'il mazid 3-huruf (نَعِمَ) dengan tambahan satu huruf alif hamzah (أ) diawalnya. Wazan atau rumus untuk fi'il mazid dengan alif hamzah ini adalah أَنْعَمَ sebagai fi'il madhi dengan dhamir rafa' (subjek) huwa. Maka tasrif lughawi atau perubahan dhamir dari fi'il madhi untuk dhamir anta adalah أنْعَمْتَ = Engkau (telah) menganugrahkan nikhmat, seperti contoh nomor 7 di atas.

Kata an'amta terdapat sebanyak 5 kali dalam Al-Qur'an dan akar kata نعم terdapat sebanyak 144 kali dalam Al-Qur'an.

1.0. indek = Q001007003
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 7
1.3. no kalimat = 3
2.0. Qur'anic = أَنْعَمْتَ
2.1. Tarjamah = Engkau beri/anugrahkan nikhmat
2.2. Jenis kalimat = فعل
3.0. Awalan1 = أ
3.1. Tarjamah = alif hamzah
3.2. Jenis kalimat = حرف
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = تَ
5.1. Tarjamh = engkau
5.2. Jenis kalimat = إسم
5.3. Akhiran2 = 
5.6. Akhiran3 = 
6.0. Asal kalimat = أَنْعَمَ
6.1. Tarjamah = (dia laki2 telah) memberi/menganugrahkan nikhmat
6.2. Jenis kalimat = فعل
7.0. Akar kalimat = َنَعِم
7.1. Tarjamah = (dia laki2 telah) menikhmati
7.2. Jenis kalimat = فعل

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.


--

Salaaman,


Aba Abdirrahim

Jumat, 05 Februari 2016

Q001007002 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-7, Kata "alladziina")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يومِ الدّينِ

إيّاكَ نعبدُ وإيّاكَ نستعينُ

اهـدنَا الصّرٰطَ المستقيمَ

صرٰط الّذينَ أنعمتَ عليهـم غير مغضوبِ عليهم ولا الضّآلّينَ

Insyaa' Allah hari ini kita lanjutkan pembahasan ayat ke-7 surat Al-Fatihah yaitu kata ke-, alladziina (الّذينَ) = orang-orang (yang).

Kata alladziina berasal dari kata alladzi (الّذي) = yang, adalah isim maushul (kata sambung), yaitu isim yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung semacam ini diwakili oleh kata "yang". Sedangkan penambahan kata -ina (ـينَ) menunjukkan kalimat atau pokok fikiran yang dihubungankan adalah juga merupakan kata isim jamak (isim yang jumlah bilangannya lebih dari dua).

Isim maushul ini termasuk isim yang mabni yaitu isim yang keadaan/harakat akhirnya tidak mengalami perubahan walaupun diletakkan pada posisi yang berbeda dalam suatu kalimat.

Kata isim maushul alladzi (الَّذِيْ) adalah untuk mudzakkar (kata berjenis laki2).

Bila isim maushul itu dipakai untuk muannats (kata berjenis perempuan) maka: الَّذِيْ menjadi: الَّتِيْ 

Bila zIsim maushul itu digunakan untuk mutsanna (dual) maka: الَّذِيْ menjadi: الَّذَانِ sedangkan الَّتِيْ menjadi: الَّتَانِ 

Bila isim maushul itu dipakai untuk jamak maka: الَّذِيْ menjadi: الَّذِيْنَ sedangkan: الَّتِيْ menjadi: الَّذِيْنَ juga.

Isim maushul (kata sambung) ini terdapat ribuan kali dalam Al Qur'an. Sementara kata alladziinaa sendiri terdapat 1080 kali.

1.0. indek = Q001007002
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 7
1.3. no kalimat = 2
2.0. Qur'anic = ٱلَّذِينَ
2.1. Tarjamah = orang-orang yang
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = ْالَّذِي
6.1. Tarjamah = yang
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = الَّذى
7.1. Tarjamah = yang
7.2. Jenis kalimat = إسم

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.


--

Salaaman,


Aba Abdirrahim

Kamis, 04 Februari 2016

Q001007001 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-7, Kata "shiraatha")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يوْمِ الدّينِ

إيّاكَ نعبدُ وإيّاكَ نستعينُ

اهـدِنَا الصّرٰطَ المستقيمَ

صرٰطَ الّذينَ أنعمتَ عليهم عير المغضوبِ عليهم ولا الضّآلّينَ

Insyaa' Allah hari kita masuk ke ayat ke-7 dari surat Al-Fatihah.  Seperti biasa kita bahas dulu kata dan ayat kemaren bahwa kata al-mustaqiima (المستقيمَ) adalah isim ma'rifah  yang berasal dari kata isim maf'ul mustaqiimun (مستقيمٌ) dari perubahan kata (tasrif ishtilahiyah) istaqaama (استقام) - yastaqiimu (يستقيمُ). 

Kedudukan kata al-mustaqiima dalam ayat ke-6 ini adalah sebagai kata shifat dari kata ash-shiraatha (الصّرٰطَ) sekaligus sebagai maf'ul bih (objek) kedua dari kata kerja perintah ihdinaa (اهـدِنَا), dimana -naa (نَا) sebagai maf'ul bih yang pertama.

Kata kita hari ini, kata pertama pada ke-7 surat Al-Fatihah, shiraatha (صرٰطَ) = jalan, adalah pengulangan dari kata ash-shiraatha (الصّرٰطَ) pada ayat sebelumnya. Jadi kata shiraatha adalah kata badal (pengganti) kata ash-ashiraatha, dengan demikian harakatnya sama semua dengan kata yang diganti. 

Q001007001

1.0. indek = Q001007001
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 7
1.3. no kalimat = 1
2.0. Qur'anic = صِرٰطَ
2.1. Tarjamah = jalan
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = صِرَاط
6.1. Tarjamah = jalan
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = صرط
7.1. Tarjamah = jalan
7.2. Jenis kalimat = إسم


Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.


--

Salaaman,


Aba Abdirrahim

Rabu, 03 Februari 2016

Q001006003 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-6, Kata "al-mustaqiima")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يومِ الدّينِ

إيّاكَ نعبُدُ وإيّاكَ نستعِينُ

اهـدِنَا الصّرٰطَ المستقِيمَ

Insyaa' Allah hari ini kita bahas kata terakhir dari ayat ke-6 surat Al-Fatihah yaitu kata Al-Mustaqiima (المستقِيمَ) = yang lurus. 

Sebelumnya kita review sedikit pembahasan kata kemaren yaitu kata Ash-Shiraatha (الصّرٰطَ) = jalan. Ash-Shiraata adalah maf'ul bih (objek) yang kedua dari kata perintah ihdi (اهـدِ) = (Engkau) tunjukilah/tunjukan dan -naa (نَا) = kami adalah maf'ul bih pertamanya. Dengan demikian kata ihdinaa (اهـدِنَا الصّرٰطَ) berarti (Engkau) tunjukilah/tunjukan kami jalan. 

Jadi demikian kata Al-Mustaqiima adalah kata shifat dari kata Ash-Shiraatha. Sebelumnya juga sudah kita bahas bahwa kata shifat mengikuti kata yang disipati (maushuf) yaitu semuanya (dua atau lebih isim) dalam keadaan Nakirah (tanwin) atau semuanya dalam keadaan Ma'rifah (alif-lam).

Beberapa hari yang lewat pada saat membahas nastaiinu, kita sudah menjelaskan fi'il mazid dengan tambahan 3-huruf ista (است). Fi'il Mazid dengan tambahan 3-huruf ini disebut juga Fi'il Sudaasii atau Fi'il 6-huruf karena jumlah total hurufnya menjadi 6 (سُدَاسِي). 

Kata Al-Mustaqiima terdiri dari awalan alif-lam (ال) = yang, dan kata mustaqiim (مُسْتَقِيم) tasrif ishtilahiyah (perubahan sentense) yang berasal dari fi'il mazid istaqaama (استقام) dengan tambahan 3-huruf ista (است) dari fi'il madhi akar kata Qaama (قَامَ). Mustaqiimun (ٌمُسْتَقِيم) adalah isim maf'ul dari tasrif ishtilahiyah dari bab/pola fi'il madhi (َاسْتَقَام) dan fi'il mudhari' (ُيَسْتَقِيم). Wazan atau rumus tasrif ishtilahiyah dari isim maf'ul adalah dengan mengganti kata ya- dan harakat dhammah diakhir kata fi'il mudhari' dengan kata mu- dan harakat dhammatain secara berturutan. 

Ketika kata mustaqiimun menjadi ma'rifah (alif lam) maka harakat huruf akhirnya menjadi dhammah kembali. Tetapi di dalam kalimat atau ayat ke-6 ini, karena al-mustaqiimu menjadi shifat dari kata ash-shiraatha maka harakat huruf akhir al-mustaqiimu menjadi fathah - menjadi al-mustaqiima.

Akar kata qawama (قوم), karena waaw (و) adalah huruf 'illat maka di dalam kamus menjadi  qaama (قام). Di dalam Al-Qur'an terdapat sebanyak 45 kali akar kata qawama dan 37 kali kata mustaqiim (مستقيم).

Q001006003

1.0. indek = Q001006003
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 6
1.3. no kalimat = 3
2.0. Qur'anic = ٱلْمُسْتَقِيمَ
2.1. Tarjamah = yang lurus
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = ال
3.1. Tarjamah = yang 
3.2. Jenis kalimat = حرْف
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = مُسْتَقِيم
6.1. Tarjamah = lurus
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = قوم
7.1. Tarjamah = (dia laki-laki telah) mendirikan (to stand-up, to build up)
7.2. Jenis kalimat = فعل


Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.


--

Salaaman,


Aba Abdirrahim

Selasa, 02 Februari 2016

Q001006002 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-6, Kata "Ash-Shiraatha")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يوْمِ الدِّينِ

إيّاكَ نعبدُ وإيّاكَ نستعِينُ

اهـدِنَا الصّرٰطَ المستقِيمِ


Insyaa' Allah hari ini kita lanjut pembahasan kata ke-2 ayat ke-6 surat Al-Fatihah, yaitu kata Ash Shiraatha (الصّرٰط) yg berarti jalan. Sebelum kita bahas lebih lanjut kata Ash-Shiraatha ini lebih dulu kita review sedikit tentang kata ihdinaa.

Kata ihdii adalah Fi'il Amar atau kata perintah. Perintah adalah pembicara (Mutakallim) atau "orang pertama" (saya/kami) meminta/menyuruh suatu pekerjaan agar dilakukan oleh lawan bicara (Mukhathab) sebagai orang yang diperintah. Perlu diingat bahwa yang menjadi Fa'il (Pelaku) dari Fi'il Amar (Kata Kerja Perintah) adalah Dhamir Mukhathab (lawan bicara) atau "orang kedua" (kamu/kalian) sebagai orang yang diperintah untuk melakukan pekerjaan tersebut. 

Jadi dhamir rafa' (subjek) dari fi'il amar adalah orang kedua, dalam hal kata ihdii, pelaku (fa'il) adalah -ka (ـكَ) pada ayat sebelumnya sebagai dhamir darinlafazh Al-Jalallah الله yaitu Engkau. Sementara sebagai pembicara (mutakallim) adalah -Naa (ـنَا) yang juga  sebagai dhamir nashab atau objek atau maf'ul bih. Dengan demikian arti ihdii adalah (Kamu/Engkau) tunjukilah/tunjukan kami.

Kata kita hari ini adalah Ash Shiraatha (الصّرٰطَ) = jalan, adalah isim ma'rifat yang juga merupakan objek (maf'ul bih) dari kata kerja perintah ihdii. Jadi kata fi'il amar ihdii mempunyai dua objek, pertama (maf'ul bih awal) yaitu kata -naa (ـنَا) = kami dan yg kedua (maf'ul bih tsani) yaitu Ash Shiraatha (الصّرٰطَ) = jalan.

Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, berdasar dalil irab nashab bahwa setiap isim yang menjadi objek atau maf'ul bih maka huruf terakhirnya berharakat fathah.


1.0. indek = Q001006002
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 6
1.3. no kalimat = 2
2.0. Qur'anic = ٱلصِّرٰطَ
2.1. Tarjamah = jalan
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = ال
3.1. Tarjamah = ini, itu
3.2. Jenis kalimat = حرْف 
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = صِرَاط
6.1. Tarjamah = jalan
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = صرط
7.1. Tarjamah = jalan
7.2. Jenis kalimat = إسم

Kata Ash Shiraatha terdapat sebanyak 45 kali di dalam Al Qur'an.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.




--

Wassalam,
Aba Abdirrahim

Q001006001 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-6, Kata "ihdinaa")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِاللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يومِ الدّينِ

إيّاكَ نعْبدُ وإيّاك نستعِينُ

اهـدِنَا الصّرٰطَ المستقِيمَ

Insyaa' Allah hari ini kita mulai membahas ayat ke-6, kata ke-1 dari surat Al-Fatihah. Tapi sebelumnya kita ralat dulu sedikit infomarsi dhamir Nahnu yang kemaren.

2. Nahnu (نَحْنُ) = kami atau kita baik laki2 maupun perempuan - dua atau lebih. Nahnu adalah Dhamir Rafa' (subjek) yang ditulis terpisah, kalau menyatu dengan kata lain maka ditulis dengan na- (نَــ). Sebagsi objek (dhamir nashab) selalu ditulis menyatu dengan kata lain, yaitu -na (ــنَا).

Kemaren sudah kita bahas dua pola, kombinasi atau form atau bab dari kata fi'il. Bab ke-1 adalah fa'ala - yaf'ulu  (فَعَلَ - يَفْعُلُ) untuk fi'il madhi dan fi'il mudhari' dan kita bahas pada kata na'budu yang mempunyai pola sama dengan pola bab ke-1 ini. Kemudian kita juga membahas pola fi'il madhi mazid dengan tambahan/sisipan 3-huruf ista (إست) dengan pola atau bab ajuf wawi (istital pesantren) dan perubahannya menjadi fi'il mudhari' mazid dengan dhamir rafa' nahnu pada kata nasta'iinu.

Insyaa Allah pada kata pertama ayat ke-6 ini yaitu kata ihdinaa (اهـدِنَا) = tunjukan atau tunjukilah kami, kita akan mempelajari fi'il amar (kata kerja perintah) pada pola kombinasi fi'il 3-huruf (tsulatsi) dengan salah satu huruf nya menggunakan huruf 'illat (penyakit) yaitu huruf yaa' (ـي) di akhir kata.

Sebelumnya kita bahas dulu pola, kombinasi atau bab ke-2 yaitu fa'ala - yaf'ilu (فَعَلَ - يَفْعِلُ) untuk fi'il madhi dan fi'il mudhari'. Sedangkan wazan atau rumus untuk fi'il amar-nya (berdasarkan wazan fi'il mudhari' yaf'ilu) adalah "mengganti kata ya- (يَـ) dengan huruf alif (ا) dan menggati harakat huruf ke-3 dengan sukun (ـلْ)", dengan demikian menjadi if'il (افْعِلْ).

Kata ihdinaa (اهـدِنَا) terdiri dari fi'il amar ihdi- (ِاهـد) = tunjukan atau tunjukilah dan dhamir nashab -naa (نَا) = kami.

Akar kata ihdina atau fi'il madhi-nya adalah hadaya (هـَدَىَ) = (dia laki2 telah) menunjukan atau memberi petunjuk, sedankan fi'il mudhari'-nya adalah yahdii (يَهـْدِى) = dia (laki2 sedang, akan dan senantiasa) memberi petunjuk. Wazan atau rumus untuk fi'il amar dari akar kata 3-huruf fi'il madhi pada kata hadaya - yahdii adalah sama dengan pola atau Bab ke-2 seperti yang kita terangkan di atas. Tetapi karena ada huruf 'illat  yaa' pada posisi huruf ke-3 maka huruf 'illat yaa' hilang (naaqish yai). Dengan demikian fi'il amar yahdii ( يَهـْدِى) menjadi ihdi (اهـْدِِ).

Jadi kata ihdinaa (اهـدِنَا) terdiri dari: 

Pertama, fi'il amar ihdi- (اهـدِ) = (engkau laki2) tunjukilah atau tunjukan.

Kedua, dhamir nashab muttashil -naa (نَا) = kami, yang nyambung dengan fi'il amar ihdi- (اهـدِ) diatas.

Kata ihdinaa hanya terdapat sebanyak 2 kali, tetapi akar kata hadaya (هـدى) terdapat sebanyak 316 kali di dalam Al Qur'an.


1.0. indek = Q001006001
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 6
1.3. no kalimat = 1
2.0. Qur'anic = ٱهْدِنَا
2.1. Tarjamah = tunjukan/tunjukilah kami
2.2. Jenis kalimat = فعل
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = نَا
5.1. Tarjamah = kami
5.2. Jenis kalimat = إسم
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = هَدَى
6.1. Tarjamah = memberi petunjuk
6.2. Jenis kalimat = فعل
7.0. Akar kalimat = هـَدَيَ
7.1. Tarjamah = (dia laki2 telah) memberi petunjuk
7.2. Jenis kalimat = فعل

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.





--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Q001005004 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-5, Kata "nasta'iinu")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يوْمِ الدّينِ

إيّاكَ نعْبدُ وإيّاكَ نستعِينُ

Insyaa Allah hari ini kita akan membahas kata tetakhir dari ayat ke-5 surat Al Fatihah.

Seharusnya kemaren kita review Dhamir (kata ganti orang) dan Fi'il Madhi (kata kerja lampau) dan Fi'il Mudhari' (kata kerja sedang, akan dan kebiasaan) karena sudah beberapa kali kita menggunakan istilah tersebut dan kata wa-iyyaaka pengulangan dari kata iyyaaka.

Dhamir, ada yg bilang 14 ada yg bilang 12 karena ada 2 dhamir sama baik buat laki-laki maupun perempuan. Dhamir sebagai subject disebut Dhamir Rafa' sedangkan sebagai objek disebut Dhamir Nashab. Yang sudah kita gunakan sama hari ini adalah:

1. Anta (أَنْتَ) = kamu laki2 - tunggal. Anta adalah Dhamir Rafa' (subjek) yang ditulis terpisah, kalau menyatu dengan kata lain maka ditulis dengan ta- (تَــ). Sebagsi objek (dhamir nashab) selalu ditulis menyatu dengan kata lain, yaitu -ka (ــكَ).

2. Nahnu (نَحْنُ) = kami atau kita baik laki2 maupun perempuan - dua atau lebih. Nahnu adalah Dhamir Rafa' (subjek) yang ditulis terpisah, kalau menyatu dengan kata lain maka ditulis dengan na- (نَــ). Sebagsi objek (dhamir nashab) selalu ditulis menyatu dengan kata lain, yaitu -naa (ـنَا).

3. Huwa (هـُوَ) = dia laki2 - tunggal. Huwa adalah Dhamir Rafa' (subjek) yang ditulis terpisah, kalau menyatu dengan kata lain maka ditulis dengan ya- (يَــ). Sebagsi objek (dhamir nashab) selalu ditulis menyatu dengan kata lain, yaitu -hu (ــهُ).

Dhamir yg ditulis terpisah disebut juga dhamir munfashil sedang yg ditulis menyatu disebut dhamir muttashil. Jadi semua objek (dhamir nashab) selalu ditulis menyatu atau dhamir muttashil.

Secara umum Fi'il kata kerja dibagi menjadi 3 kategori, tapi yang sudah kita bahas baru dua yaitu Fi'il Madhi (lampau) dan Fi'il Mudhari' (sekarang, akan dan kebiasaan). Yang belum kita bahas adalah Fi'il Amar (perintah). 

Umumnya atau mayoritas kata dalam bahasa Arab terdiri dari 3 huruf dan mengikuti acuan atau timbangan atau rumus tertentu yang dalam bahasa Arab disebut wazan. Pola atau kombinasi atau patern atau form seluruh bahasa Arab ada 35 (mayoritas dari 3-huruf, tapi ada juga yg 4-huruf atau 5-huruf). Masing2 pola atau kombinasi ini ada beberapa wazan.

Perubahan akar kata kerja menjadi kata kerja lain baik kata kerja sekarang, perintah maupun kata benda (isim) dan lain-lain disebut tasrif. Tasrif berdasarkan jumlah atau jenis pelakunya (dhamir) disebut tasrif lughawi. Sedangkan tasrif berdasar jenis kata (kerja, isim, perintah, dll) disebuy tasrif ishtilahi.

Fi'il madhy berubah menjadi fi'il mudhari' disebut tasrif ishtilahi. Sedangkan Fi'il dengan dhamir huwa ke dhamir nahnu disebut tasrif lughawi.

Untuk Fi'il dari kelompok 3-huruf yang tidak ada huruf sisipan sama sekali (disebuat fi'il mujarrad) ada 6 pola atau form (istilah santri bab), sedangkan dari kelompok 3-huruf  yang ada sisipan 2-3 huruf (disebut fi'il mazid) ada 12 bab. Dan masing2 bab banyak wazan (rumus) perubahannya.

Bab ke-1 (mulai dari mujarrad) yaitu 'abada (عَبَدَ) (fi'il madhi) yang artinya (dia laki2 telah) menyembah, berubah menjadi fi'il mudhari' ya'budu (يَعْبُدُ) yang berarti (dia laki2 sedang, akan dan senantiasa) menyembah. 

Kata 'abada mempunyai rumus (wazan) seperti itu, yaitu عَبَدَ (kasrah semua) sedangkan kata ya'budu mempunyai wazan "dhamir rafa' + huruf pertama suku (mati) + huruf ke-2&3 dhammah" yaitu يَعْبُدُ. Perubahan tasrif dari 'abada  ke ya'budu disebut tasrif ishtilahi. 

Kalau dhamir rafa' (subjek) diganti menjadi kami maka kata fi'il mudharif ya'budu menjadi na'budu (نَعْبُدُ) yang berarti "kami (sedang, akan dan senantiasa) menyembah. Perubahan dari ya'budu ke na'budu disebut tasrif lughawi. Sementara wazan ya'budu dengan na'budu sama yaitu "dhamir rafa' + huruf pertama suku (mati) + huruf ke-2&3 dhammah".

Semua kata bahasa Arab yang mengikuti pola atau bab ke-1 ini, wazannya (rumusnya) sama semua. 

Contoh: كَتَبَ = (dia laki2 telah) menulis sebagai fi'il madhi dan fi'il mudhari'nya يَكْتُبُ = dia (laki2 sedang, akan dan senantiasa) menulis. Maka menjadi نَكْتُبُ jika subjeknya berubah menjadi kami.

Insyaa Allah hari ini kata ke-4 ayat je-5 surat Al Fatihah adalah nasta'iinu (نَسْتَعِيْنُ) = kami (sedang, akan dan senantiasa) minta/mohon pertolongan.

Kata nasta'iinu terdiri dari dhamir subjek (nashab) kami na- (نَــ) dan fi'il mazid dengan tambahan 3-huruf ista (إِسْتَ) = memohon atau meminta, akar kata dari fi'il madhi mujarraf  'aana (عَاَنَ) yang berarti (dia laki2 telah) menolong. Dengan tambahan kata ista ini maka kata ista'aana (إِسْتَعَاَنَ) = (dia laki2 telah) minta pertolongan, menjadi fi'il madhi mazid.

Kita sebut saja Pola atau Bab ke-33.1 (3-huruf, 3-sisipan, pola ke-1) fi'il madhi ista'aana menjadi fi'il mudhari' yasta'iinu (يَسْتَعِينُ) = dia (laki2 sedang, akan dan senantiasa) minta pertolongan. Perubahan dhamir rafa' (subjek) dia ke kami, maka menjadi nasta'iinu (نَسْتَعِينُ) = kami (sedang, akan dan senantiasa) minta pertolongan.

Ista (إست) meskipun meskipun berarti meminta/memohon tetapi tidak termasuk kata kerja atau fi'il karena kata ista selalu ditulis menyatu dengan kata kerja lain seperti istaraaha = minta istirahat atau ber-istirahat.

Sementara akar kata 'aana (عان) karena huruf 'illat (lemah) alif ditengah, maka dikamus dicari dengan kata عون (menolong) atau عين (melihat). Jadi yang cocok adalah عون.

1.0. indek = Q001005004
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 5
1.3. no kalimat = 4
2.0. Qur'anic = نَسْتَعِينُ
2.1. Tarjamah = kami minta pertolongan
2.2. Jenis kalimat = فعل
3.0. Awalan1 = نَ
3.1. Tarjamah = kami
3.2. Jenis kalimat = إسم
3.3. Awalan2 = َاسْت
3.4. Tarjamah = minta, mohon
3.5. Jenis kalimat = حرْف
3.6. Awalan3 = 
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = ٱسْتَعِينُ
6.1. Tarjamah = minta pertolongan
6.2. Jenis kalimat = فعل
7.0. Akar kalimat = عَوْن
7.1. Tarjamah = (dia laki2 telah) menolong
7.2. Jenis kalimat = فعل


Semoga bermamfaat, wallahu a'lamu bishshawab.




--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Q001005003 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-5, Kata "wa-iyyaaka")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يوْمِ الدّينِ

إيّاكَ نَعْبدُ وإيّاكَ نَستعِينُ

Insyaa' Allah hari ini pembahasan kita adalah pengulangan kata dua hari sebelumnya. Perbedaannya cuman kata wa (َو) yang beraryi dan. 

Jadi kata kita hati ini adalah wa-iyyaaka (وإيّاكَ) yang berarti "dan (hanya) kepadaMu".

1.0. indek = Q001005003
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 5
1.3. no kalimat = 3
2.0. Qur'anic = وَإِيَّاكَ
2.1. Tarjamah = dan hanya kepada-Mu 
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = وَ
3.1. Tarjamah = dan
3.2. Jenis kalimat = حرْف
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = كَ
5.1. Tarjamah = engkau, kamu
5.2. Jenis kalimat = إسم
5.3. Akhiran2 = 
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = إِيَّا
6.1. Tarjamah = kepada
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = ايي
7.1. Tarjamah = yang mana
7.2. Jenis kalimat = إسم

Semoga bermamfaat, wallahu a'lamu bishshawab.





--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Q001005002 (Surat Al Fatihah, Ayat ke-5, Kata "na'budu")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. 

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

مالكِ يوْمِ الدّينِ

إيّاكَ نعْبدُ وإيّاك نَسْتَعِينُ

Insyaa Allah hari ini kita lanjut dengan kata ke-2 ayat ke-5 surat Al Fatihah yaitu na'budu (نَعْبُدُ) yang berarti "kami menyembah".

Kemaren telah kita bahas dhamir atau kata ganti nama dan kita sebutkan bahwa dhamis adalah isim ma'rifat dan juga tidak berubah harakatnya (isim mabnii إسم مبني). Dhamir  sebagai objek disebut dhamir nashab sedangkan isim objek disebut maf'ul dan isim objek yang ada dhamir nya disebut maf'ul bih. 

Isim yang harakat huruf akhirnya fathah disebut isim manshub. Jadi tadi isim objek (maf'ul) huruf akhirnya fathah atau isim manshub.

Pada kata ke-2 ayat ke-5 surat Al-Fatihah, kita akan membahas Dhamir Rafa' yaitu kata ganti nama sebagai subjek. Kita akan mulai membahas kata fi'il yang dipakai dalam kalimat.

Kata na'budu (نَعْبُدُ) = "kami menyembah" terdiri dari dhamir rafa na (نَـ) = "kami" dan fi'il mudhari' 'budu (عْبُدُ) = "menyembah". Fi'il mudhari' (فِعْل مُضَارِع) adalah kata kerja kini, sedang, nanti dan kebiasaan. 

Jadi na'budu berarti "kami (sedang, akan dan senantiasa) menyembah".

Pada ayat hamdalah sudah kita bahas bahwa isim sebagai subjek disebut isim mubtada' seperti alhamdu. Isim yang huruf akhirnya berharakat dhammah disebut isim marfu'. Pada fi'il, perubahan harakat mengikuti pola tertentu. Untuk fi'il mudhari, perubahan harakatnya terjadi di dua tempat: di awal dan di akhir, perubahan harakatnya tergantung dari jenis pelaku (fa'il) atau dhamir rafa'.

Di hari2 pertama sudah pernah kita sebutkan bahwa  biasanya (sebagian besar) akar kata bahasa Arab terdiri dari 3 huruf dan biasanya berharakat fathah. Akar kata bahasa Arab ini biasanya  adalah kata fi'il madhi (فِعْل مَاضِي) yaitu kata kerja telah lampau yang dilakukan oleh orang laki2 pihak ke-3: "dia laki2 telah".

Pada surat Al Fatihah, ayat ke-5 kata ke-2, akar katanya adalah 'abada (عَبَدَ) adalah fi'il madhy yang berarti (dia laki2 telah) menyembabah, fi'il mudhari' nya menjadi ya'budu - يَعْبُدُ (dia laki2 sedang, akan dan senantiasa) menyembah. Kalau pelakunya adalah dhamir kami maka menjadi نَعْبُدُ yang berarti kami (sedang, akan dan senantiasa) menyembah.

Kata kita hari ini adalah na'budu (نعْبدُ), di dalam Al Qur'an terdapat sebanyak 4 kali, sementara akar kata 'abada (عبد) terdapat sebanyak 275 kali.  

1.0. indek = Q001005002
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 5
1.3. no kalimat = 2
2.0. Qur'anic = نَعْبُدُ
2.1. Tarjamah = kami menyembah
2.2. Jenis kalimat = فعل
3.0. Awalan1 = نَ
3.1. Tarjamah = kami
3.2. Jenis kalimat = إسم
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = عَبَدَ
6.1. Tarjamah = menyembah
6.2. Jenis kalimat = فعل
7.0. Akar kalimat = عَبَدَ
7.1. Tarjamah = (dia laki2 telah) menyembah
7.2. Jenis kalimat = فعل

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.





--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Q001005001 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-5, Kata "iyyaaka")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. 

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ 

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ 

الرّحمٰن الرّحيمِ 

مالكِ يوْمِ الدّينِ 

إيّاكَ نعبدُ وإيّاكَ نستعينُ

Insyaa Allah kita masuk dalam pembahasan ayat ke-5 surat Al-Fatihah. Kemaren kita sudah bahas bahwa kalimat majemuk (idhafah) terdiri dari tiga kata isim pada ayat ke-4 surat Al Fatihah. Dimana kata isim terakhir (الدّينِ) dari mudhaf ilaih yang ma'rifat, sedangkan kata kedua atau sebelum terakhir (يوْمِ) tidak ma'rifat atau disebut nakirah sama dengan kata pertama (مالكِ) yang juga nakirah.

Pada kata ke-1 ayat ke-5 surat Al Fatihah ini yaitu iyyaaka (إِيَّاكَ) yang terjemahan "hanya kepadaMu" merupakan isim dhamir, isim ma'rifat, isim objek (maf'ul bih) atau isim manshub yaitu isim yang berharakat fathah.

Sebelumnya mari kita lihat dulu definisi dhamir. Dhamir adalah kata ganti nama/sebutan, seperti saya, kamu, dia, dll.

Dalam bahasa Arab, dhamir merupakan isim ma'rifat. Dhamir bisa sebagai subjek atau objek. Dhamir sebagai objek disebut maf'ul bih. Huruf terakhir kata pada posisi objek (bukan dhamir karena harakat dhamir tidak berubah) berharakat fathah atau disebut mandhub.

Jadi huruf yaa kata Iyyaka berharakat fathah karena merupakan isim manshub, sementara huruf ka (كَ) pada kata iyyaaka adalah dhamir dari kamu sebagai objek - sedangkan subjek dari dhamir kamu adalah kata anta (أنْتَ).

Jadi kata iyyaaka (= kepadamu) adalah objek dan biasanya objek terletak di belakang kata lain. Pada ayat ke-5 surat Al Fatihah ini, kata iyyaaka ditempatkan didepan kata lainnya. Menurut ahli tafsir, jika objek ditempatkan didepan kata lain maka ditambahkan kata "hanya", sementara kata ka (= Mu) di ayat ini adalah dhamir dari kata Maaliki pada ayat sebelumnya.

Pembahasan kita hari ini adalah kata iyyaaka (إيّاكَ) = kepadaMu. Di dalam Al Qur'an, kata iyyaaka (إِيَّاكَ) hanya terdapat dua kali dan dua-duanya di ayat ke-5 surat Al Fatihah. Tetapi akar kata ايي terdapat sebanyak 628 kali di dalam Al Qur'an.

1.0. indek = Q001005001
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 5
1.3. no kalimat = 1
2.0. Qur'anic = إِيَّاكَ
2.1. Tarjamah = hanya kepada-Mu 
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = كَ
5.1. Tarjamah = engkau, kamu
5.2. Jenis kalimat = إسم
5.3. Akhiran2 = 
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = إِيَّا
6.1. Tarjamah = kepada
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = ايي
7.1. Tarjamah = yang mana
7.2. Jenis kalimat = إسم


Semoga bermamfaat, wallahu a'lamu bishshawab.





--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Q001004003 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-4, Kata "Ad Diini")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. 

بيمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ 

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ 

الرّحمٰنِ الرّحيمِ 

مالكِ يوْمِ الدّينِ

Insyaa Allah kita lanjutan pembahawan ayat ke-4 surat Al Fatihah. Kemaren sudah kita bahas kata yaumi (يَوْمِ) dan pembahasannya membingungkan karena kesalahan asumsi atau karena saya menganggap pasangan kata mudhaf ilaih hanya dua kata saja seperti sebelumnya (bismi dengan lafazh Al-Jalaalah Allah). Padahal, per definisi dan juga sudah kita bahas di awal bahwa kalimat terdiri dari minimal 2 (dua) kata, begitu juga dengan pasangan kalimat idhafah (mudhaf dan mudhaf ilaih).

Pada ayat ke-4 surat Al-Fatihah ini, pasangan idhafah terdiri dari 3 (tiga) kata. Karena kalau cuman dua yaitu Maaliki dan Yaumi maka kata Yaumi harus ma'rifat atau ditambah Alif Lam, tapi artinya jauh berbeda karena kata Al-Yaumi berarti HARI INI (today) dan secara tauhid ini SALAH BESAR. 

Jadi pada ayat ke-4 surat Al-Fatihah ini, kalimat idhafah terdiri dari 3 kata dan per definisi, kata terakhir harus ma'rifat. Tetapi kata kedua tetap mengikuti dalil/aturan mudhaf ilaih yaitu majrur, huruf akhirnya kasrah. Dengan demikian kata yaumi tetap mudhaf ilaih dan kata Ad-Diini (الدّينِ) juga mudhaf ilaih, huruf nun di akhir katanya berakat kasrah (ـنِ).

Jadi pada ayat ke-4 surat Al-Fatihah terdapat dua kata mudhaf ilaih yaitu Yaumi (يوْمِ) dan Ad-Diini (الدّينِ) dari kata mudhaf Maaliki (مالكِ).

Sebagai padanan dalam bahasa Indonesia bahwa kalimat Idhafah adalah kalimat majemuk dari dua atau lebih kata benda. Kata benda yang pertama disebut Mudhaf dan kata benda kedua dan seterusnya disebut Mudhaf Ilaihi. Tujuan dari kata majemuk/idhafah ini agar kata2 benda yang berdiri sendiri-sendiri ini menjadi jelas artinya (ma'rifat), sebagai contoh:

1a. bismi = dengan nama (tidak jelas - nakirah)

1b. Allah = Allah (jelas - ma'rifat)

Maka gabungannya

1a + 1b. Bismillahi = dengan Nama Allah (jelas - ma'rifat)

Contoh lain:

3a. Rabb = Tuhan, Pemilik (belum jelas yang mananya karena orang Arab menyebut Rabb juga kepada pemilik Kambing - ingat cerita dialog Abrahah dengan Abdul Muthalib, jadi kata Rabbi adalah isim nakirah).

3b. Al-'Aalamiina = Alam Semesta (jelas - ma'rifat).

Gabungan katanya menjadi 

Rabbil'aalamiina = Pemelihara (Semua) Alam Semesta (jelas - ma'rifah).

Kata Alif Lam diawal kata Diini ini merubah arti kata diini = agama menjadi ad-diini = Pembalasan/Hisab (judgement). Dari nakirah menjadi ma'rifat.

1.0. indek = Q001004003
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 4
1.3. no kalimat = 3
2.0. Qur'anic = ٱلدِّينِ
2.1. Tarjamah = pembalasan
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = ال
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = حرْف
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = دِين
6.1. Tarjamah = agama
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = َدَيَن
7.1. Tarjamah = (dia laki2 telah) menghutangkan
7.2. Jenis kalimat = فعل

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bishshawab.





--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Q001004002 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-4, Kata "yaumi")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. 

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ
الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمينَ
الرّحمٰن الرّحيم
مالكِ يوْمِ الدّينِ


Insyaa' Allah hari ini kita bahas kata ke-2 dari ayat ke-4 surat Al-Fatihah yaitu yaumi (يَوْمِ) = hari. 

Kata yaumi (يَوْمِ) atau yaum (يَوْم) - baik asal kata atau akar kata semuanya adalah isim nakirah. Tapi disini kata yaumi menjadi ma'rifat karena mudhaif ilaih, dengan demikian kata yaumi kasrah di mim (مِ) semenentara kata sebelumnya Maliki adalah isim nakirah.

Ini kata kita hari ini, yaumi (يَوْمِ). Di dalam Al Qur'an kata yaumi muncul sebanyak 73 kali.

1.0. indek = Q001004002
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 4
1.3. no kalimat = 2
2.0. Qur'anic = يَوْمِ
2.1. Tarjamah = hari
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = يَوْم
6.1. Tarjamah = hari
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = يَوْم
7.1. Tarjamah = hari
7.2. Jenis kalimat = إسم


Semoga bermamfaat, wallahu a'lamu bishshawab.





--

Wassalam,

Aba Abdirrahim

Q001004001 (Surat Al-Fatihah, Ayat ke-4, Kata "Maaliki")

Assalam mu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. 

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ 

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

الرّحمٰنِ الرّحيمِ

Insyaa' Allah hari ini kita mulai membahas ayat ke-4 dari surat Al Fatihah. Kata Maaliki (مَالِكِ) artinya Pemilik, kalau ma- dibaca pendek sehingga menjadi Maliki maka artinya Raja, menurut ahli tafsir tidak ada perubahan ma'na. Tapi untuk pembahasan kita menggunakan kata Maaliki yang berasal dari kata Maalik (مَالِك) = Pemilik. Akar katanya adalah malaka (مَلَكَ) yang berarti (dia laki2 telah) memiliki atau menguasai.

Huruf kaf berharakat kasrah (ـكِ) karena kata Maaliki merupakan kata pengganti lafazh Al-Jalaalah اللهِ pada kata Lillahi di ayat Hamdalah sebelumnya. Jadi Maaliki juga merupakan badal (kata pengganti) sama dengan Rabbi.

Kata kita hari dan di dalam Al Qur'an cuman ada dua kata Maaliki (مَالِكِ) ini:

1.0. indek = Q001004001
1.1. no surat = 1
1.2. no ayat = 4
1.3. no kalimat = 1
2.0. Qur'anic = مٰلِكِ
2.1. Tarjamah = Pemilik
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 =
3.6. Awalan3 =
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan3 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = مَالِك
6.1. Tarjamah = Pemilik
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = مَلَك
7.1. Tarjamah = (dia laki2 telah) memiliki, menguasai
7.2. Jenis kalimat = فعل


Wallahu a'lamu bishshawab, semoga bermamfaat.





--

Wassalam,

Aba Abdirrahim