Senin, 03 Juli 2017

Q002034008 (Surat Al-Baqarah, Ayat ke-34, Kata "ibliisa")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

قالَ يـٔادمُ أنبئهُم بأسمآئهِمْ ۖ فلمّآ أنبأَهُم بأسمآئهِمْ قالَ ألمْ أقُل لّكمْ إنّىٓ أعلمُ غيب السّمٰوٰتِ والْأرضِ وأعلمُ ما تبدُونَ وما كنتمْ تكتمُونَ (QS 2:33)

وإذْ قلنَا للملٓئكةِ اسجدُوا۟ لءادمَ فسجدُوٓا۟ إلّآ إبليسَ أبىٰ وٱستكبرَ وكانَ منَ الْكٰفرِينَ (QS 2:34)

Alhamdulillahi wasyukurillahi 'alaa ni'matillahi. Segala puji dan syukur bagi Allah atas segala nikhmat, baik nikhmat iman, nikhmat Islam dan nikhmat kelezatan dunia yang Allah berikan pada kita. Salawat dan salam kita ucapkan kepada junjungan kita, Nabi dan Rasul yang mulia Muhammad SAW dan keluarga Beliau, kepada para Sahabat RA, para Tabi'in, Tabiut Tabiahum dan kepada semua ummat Islam dimanapun berada sepanjang zaman. Semoga kita semua dapat senatiasa istiqamah menegakkan ajaran Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Ayat ke-34 surat Al-Baqarah ini terdiri dari beberapa bagian kalimat sebagai berikut: 
  • Dan (ingatlah) ketika = وإذْ
  • Kami berfirman = قلنَا
  • kepada para malaikat: = للملٓئكةِ
  • "Sujudlah kamu = اسجدُوا۟
  • kepada Adam," = لءادمَ
  • maka sujudlah mereka = فسجدُوٓا۟
  • kecuali Iblis; = إلّآ إبليسَ
  • ia enggan = أبىٰ
  • dan takabur = وٱستكبرَ
  • dan adalah ia = وكانَ
  • termasuk golongan orang-orang yang kafir. = منَ الْكٰفرِينَ

Jika Allah menghendaki atau insya Allah (إن شاء الله atau kalau dilatenkan "in syaa-a Allaah"), pada hari ini kita akan membahas kata ke-8 dari ayat ke-34 surat Al-Baqarah, yaitu kata ibliisa (إِبْلِيْسَ) = iblis.

Sebelumnya sudah kita bahas bahwa semua bahasa manusia tersusun dari tiga komponen dasar yaitu:
  1. Satuan bunyi yang disebut huruf atau abjad.
  2. Susunan huruf yang memiliki arti tertentu yang disebut kata (dalam bahasa Arab disebut kalimat = الْكَلِمَة)
  3. Rangkaian kata yang mengandung pikiran yang lengkap yang disebut kalimat (dalam bahasa Arab disebut kalam = الْكَلَامْ atau jumlah = الْجُمْلَة).

Dalam tata bahasa Arab, kalimat atau kata dibagi ke dalam tiga golongan besar:
  1. ISIM ( اِسْم ) atau atau kata benda, yaitu kata yang menunjukkan atas suatu makna, dimana kata tersebut  tidak terikat dengan waktu.
  2. FI'IL ( فِعْل ) atau kata kerja, yaitu kata yang menunjukkan atas suatu makna, dimana kata tersebut terikat dengan waktu.
  3. HARF ( حَرْف ) atau kata tugas, yaitu kata yang tidak mempunyai makna yang sempurna kecuali setelah bersambung dengan kata yang lain. Huruf yang dikategorikan sebagai al-kalimah adalah huruf-huruf ma'any (tergantung kebiasaan orang Arab).

Penggunaan istilah Kata Benda, Kata Kerja dan Kata Tugas dalam tata bahasa Indonesia, tidak sama persis dengan Isim, Fi'il dan Harf dalam tata bahasa Arab. Namun bisalah dipakai untuk sekadar mendekatkan pengertian.

Pembagian Isim:
  1. Isim 'Alam (Kata benda Nama). Dalam golongan Isim, ada yang disebut dengan Isim 'Alam yaitu Isim yang merupakan nama dari seseorang atau sesuatu.

  1. Isim mudzakkar (laki2) dan muannats (perempuan. Dalam tata bahasa Arab, dikenal adanya penggolongan Isim ke dalam Mudzakkar (laki-laki) atau Muannats (perempuan). Penggolongan ini ada yang memang sesuai dengan jenis kelaminnya (untuk manusia dan hewan) dan adapula yang merupakan penggolongan secara bahasa saja (untuk benda dan lain-lain).

Dari segi bilangannya, bentuk-bentuk Isim dibagi tiga:
  1. ISIM MUFRAD (tunggal) kata benda yang hanya satu atau sendiri.
  2. ISIM MUTSANNA (dual) kata benda yang jumlahnya dua.
  3. ISIM JAMAK (plural) atau kata benda yang jumlahnya lebih dari dua.

Menurut penunjukannya, Isim dapat dibagi dua:
  1. ISIM NAKIRAH atau kata benda sebarang atau tak dikenal (tak tentu).
  2. ISIM MA'RIFAH atau kata benda dikenal (tertentu).

Isim Nakirah merupakan bentuk asal dari setiap Isim, biasanya ditandai dengan huruf akhirnya yang bertanwin ( ً ٍ ٌ ). Sedangkan Isim Ma'rifah biasanya ditandai dengan huruf Alif-Lam ( ال ) di awalnya

Alhamdulillah, sebelumnya sudah kita bahas bahwa menurut kaidah-kaidah nahwu, isim dari sisi i'rab (berubahnya harakat akhir) dan bina (tetapnya harakat akhir) dibagi menjadi dua: 
A. Mu'rab, yaitu isim yang harakat akhirnya berubah sesuai dengan posisi dalam kalmat.
B. Mabni, yaitu isim yang harakat akhirnya tetap meskipun posisinya berubah-ubah. 

Isim mu'rab terbagi menjadi:
  1. Marfu', yaitu isim dengan tanda i'rab utamanya dhammah.
  2. Manshub, yaitu isim dengan tanda i'rab utamanya fathah.
  3. Majrur, yaitu isim dengan tanda i'rab utamanya kasrah.

Sebelumnya juga sudah kita bahas isim marfu'. Kita lanjutkan dengan pembahasan isim manshub. Isim mansub adalah isim yang terkena i'rab nashab yang berfungsi sebagai objek. 

Tanda-tanda isim manshub adalah sebagai berikut:
  • Fathah (ــَــًــ), pada isim mufrad dan jama’ taksir. Fathah dinamakan tanda nashab yang pokok, sedangkan tanda-tanda berikut dinamakan tanda nashab yang cabang. 
  • Al-yaa (ين), pada mutsanna dan jama’ mudzakkar salim. Huruf al-yaa sebelum mutsanna difathahkan dan sebelum jama’ dikasrahkan. 
  • Kasrah (ــِــ) atau ta muannats (تِ), pada jama’ muannats salim. 
  • Alif (ا), pada asmaul khamsah (isim mansub yang lima), yaitu أَبَاكَ – أَخَاكَ – حَمَاكَ – فَاكَ – ذَامَال

Isim menjadi manshub pada 11 posisi, yaitu: 
  1. Khabar kana, 
  2. Isim Inna, 
  3. Maf’ul Bih, 
  4. Maf’ul Muthlaq, 
  5. Maf’ul li Ajlih, 
  6. Maf’ul Ma’ah,
  7. Maf’ul Fih (Zharaf Zaman dan Makan) 
  8. Hal, 
  9. Mustatsna, 
  10. Munada, dan 
  11. Tamyiz. 
Demikian juga isim menjadi manshub apabila mengikuti isim yang manshub. 

Kata ibliisa (إِبْلِيْسَ) = iblis, adalah kata benda isim alam (nama benda, seseorang atau sesuatu).  

Jadi kata ibliisa (إِبْلِيْسَ) pada ayat ke-34 surat Al-Baqarah ini adalah isim alam manshub dengan ciri utama fathah. Kata ibliisa (إبليسَ) merupakan isim mustastna yaitu isim yang dikecualikan atau terletak setelah huruf istitsnaa' atau huruf pengecualian illaa (إلّا) sebelumnya. Kata ibliisa (إبليسَ) juga merupakan bagian dari jawab syarat dari kata zharaf zaman idz (إذ) pada kata wa-idz (وإذ) sebelumnya. Kata ibliisa (إبليسَ) di dalam Al-Qur'an terdapat sebanyak 8 kali sedangkan asal kata ibliis (إبليس) dengan semua kemunkinan akhiran dan/atau i'rab terdapat sebanyak 11 kali.

1.0. Indek = Q002034008
1.1. No surat = 2
1.2. No ayat = 34
1.3. No kalimat = 8
2.0. Qur'anic = إِبْلِيْسَ
2.1. Tarjamah = iblis
2.2. Jenis kalimat = إسم
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 = 
3.6. Awalan3 = 
4.0. Sisipan1 = 
4.3. Sisipan2 = 
5.0. Akhiran1 = 
5.1. Tarjamah = 
5.2. Jenis kalimat = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = إِبْلِيْس
6.1. Tarjamah = iblis
6.2. Jenis kalimat = إسم
7.0. Akar kalimat = 
7.1. Tarjamah = 
7.2. Jenis kalimat = 

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

Wassalam


References:

  1. http://www.almaany.com/quran/2/34/8/
  2. http://corpus.quran.com/treebank.jsp?chapter=2&verse=34&token=6
  3. http://tanzil.net/#search/quran/إبليسَ

Minggu, 02 Juli 2017

Q002034007 (Surat Al-Baqarah, Ayat ke-34, Kata "illaa")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

قالَ يـٔادمُ أنبئهُم بأسمآئهِمْ ۖ فلمّآ أنبأَهُم بأسمآئهِمْ قالَ ألمْ أقُل لّكمْ إنّىٓ أعلمُ غيب السّمٰوٰتِ والْأرضِ وأعلمُ ما تبدُونَ وما كنتمْ تكتمُونَ (QS 2:33)

وإذْ قلنَا للملٓئكةِ اسجدُوا۟ لءادمَ فسجدُوٓا۟ إلّآ إبليسَ أبىٰ وٱستكبرَ وكانَ منَ الْكٰفرِينَ (QS 2:34)

Alhamdulillahi wasyukurillahi 'alaa ni'matillahi. Segala puji dan syukur bagi Allah atas segala nikhmat, baik nikhmat iman, nikhmat Islam dan nikhmat kelezatan dunia yang Allah berikan pada kita. Salawat dan salam kita ucapkan kepada junjungan kita, Nabi dan Rasul yang mulia Muhammad SAW dan keluarga Beliau, kepada para Sahabat RA, para Tabi'in, Tabiut Tabiahum dan kepada semua ummat Islam dimanapun berada sepanjang zaman. Semoga kita semua dapat senatiasa istiqamah menegakkan ajaran Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Ayat ke-34 surat Al-Baqarah ini terdiri dari beberapa bagian kalimat sebagai berikut: 
  • Dan (ingatlah) ketika = وإذْ
  • Kami berfirman = قلنَا
  • kepada para malaikat: = للملٓئكةِ
  • "Sujudlah kamu = اسجدُوا۟
  • kepada Adam," = لءادمَ
  • maka sujudlah mereka = فسجدُوٓا۟
  • kecuali Iblis; = إلّآ إبليسَ
  • ia enggan = أبىٰ
  • dan takabur = وٱستكبرَ
  • dan adalah ia = وكانَ
  • termasuk golongan orang-orang yang kafir. = منَ الْكٰفرِينَ

Jika Allah menghendaki atau insya Allah (إن شاء الله atau kalau dilatenkan "in syaa-a Allaah"), pada hari ini kita akan membahas kata ke-7 dari ayat ke-34 surat Al-Baqarah, yaitu kata illaa (إِلَّا) = selain atau kecuali.

Sebelumnya sudah kita bahas bahwa Istitsnaa' bisa merupakan huruf, isim atau fi'il. Kata istitsnaa' adalah kata untuk mengecualikan, yang dalam ilmu nahwu disebut adawat (jamak dari adat) istitsna. Ada beberapa istilah yang digunakan dalam kalimat pengecualian, yaitu:
  • Al-Mustatsnaa, yaitu kata (biasanya isim) yang jatuh sesudah adat istitsnaa’)
  • Al-Mustatsna minhu, yaitu kata (biasanya isim) yang ada sebelum adat istitsnaa' yang dijadikan patokan pengecualian)
  • Adatul-Istitsnaa’ (perangkat istitsnaa').

Jadi adawat, adat, lafazh atau kata istitsnaa' berfungsi untuk mengecualikan kata (biasanya isim) sesudah kata istitsnaa' (disebut mustatsnaa) yang masuk dalam hukum kata (biasanya isim) sebelum kata istitsnaa' (disebut mustatsnaa minhu) baik pemasukan hukum tersebut secara jelas (hakiki) atau perkiraaan (taqdiri).

Kata istitsnaa semuanya ada delapan yang semuanya berarti kecuali, selain atau melainkan. Kata istitsnaa' dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
  1. Huruf istitsnaa', yaitu kata illaa (إلَّا)
  2. Isim istitsnaa', yaitu kata ghairu (غَيْرُ) dan siwaa (سِوَى). Kata siwaa (سِوَى) bisa berupa kata suwaa (سُوَى) atau sawaau (سَوَاءُ),
  3. Fi'il istitsnaa', yaitu laisa (لَيْسَ) dan laa yakuunu (). 
  4. Bisa dimasukan sebagai fi’il istitsnaa atau huruf istitsnaa', yaitu kata khalaa (خَلَا), 'adaa (عَدَا) dan haasyaa (حَاشَا). Kata haasyaa (حَاشَا) pada umumnya masuk kepada huruf istitsnaa'.

Adawat istitsnaa adalah mabni. I'rab mustatsnaa pada umumnya adalah wajib Nashab ‘ala Istitsnaiyah, dengan syarat:
  1. Berupa Kalam Tamm yaitu: kalam Istitsnaa dengan menyebut Mustatsna Minhu.
  2. Berupa Kalam Mujab (kalimat positif) yaitu: tanpa Nafi atau Syibhu Nafi (Nahi, Istifham bimakna Nafi).

Ada 3 kaidah yang berkaitan dengan huruf istitsna illaa (إلّا): 
  1. Bila kalimatnya sempurna dan positif, maka mustatsnaa'nya wajib manshub. 
  2. Bila kalimatnya sempurna dan negatif, maka boleh menghukumi mustatsna sebagai badal (mengikuti mustatsnaa' minhu) ataupun manshub dengan adat ististnaa. 
  3. Bila kalimatnya negatif dan tidak sempurna, maka i’rab mustatsna mengikuti ‘amilnya. 

Bila istitsnanya menggunakan isim istitsnaa' ghairu (غير), siwaa (سِوى), suwaa (سُوى) dan sawaau (سَواء) maka mustatsnanya wajib majrur. Karena keempat jenis istitsna ini merupakan isim bukan huruf, maka ketiga kaidah huruf ististna di atas bukannya berlaku untuk mustatsna nya melainkan untuk keempat isim istitsna ini. Sehingga: 
  1. Bila kalimatnya sempurna dan positif, maka isim istitsna nya yang wajib manshub sedangkan mustatsna nya wajib majrur. 
  2. Bila kalimatnya sempurna dan negatif, maka boleh menghukumi isim istitsna sebagai badal ataupun manshub dengan adat ististnaa sedangkan mustatsna nya tetap wajib majrur. 
  3. Bila kalimatnya negatif dan tidak sempurna, maka I’rab isim ististna mengikuti ‘amilnya sedangkan mustatsna tetap wajib majrur. 

Catatan bahwa karena isim siwaa (سِوى) dan suwaa (سُوى) diakhiri alif maqsurah (ى) maka tidak terlihat perbedaannya ketika marfu, manshub, dan majrur karena sama-sama dalam keadaan aslinya. 

Bila istitsnanya menggunakan khalaa (َخَلاَ), 'adaa (عَدَا) dan haasyaa  (حَاشَا) maka boleh menjadikan mustatsnanya manshub atau majrur. Jika mustatsnaa'nya majrur, maka ketiga adawat istitsna ini dianggap sebagai huruf istitsnaa' atau huruf jar dan mustatsnaa'nya disebut isim majrur. Sedangkan jika mustatsnaa'nya manshub, maka ketiga adawat istitsna ini dianggap sebagai fi’il istitsnaa dan mustastsna disebut sebagai maf’ul bih.  

Jadi kata illaa (إِلَّا) pada ayat ke-34 surat Al-Baqarah ini termasuk huruf istitsnaa', yaitu huruf pengecualian. Kata illaa (إِلَّا) merupakan bagian dari jawab syarat dari kata zharaf zaman idz (إذ) pada kata wa-idz (وإذ) sebelumnya. Kata illaa (إلّا) dalam Al-Qur'an terdapat sebanyak 714 kali.

1.0. Indek = Q002034007
1.1. No surat = 2
1.2. No ayat = 34
1.3. No kalimat = 7
2.0. Qur'anic = إِلَّآ
2.1. Tarjamah = kecuali
2.2. Jenis kalimat = حرف
3.0. Awalan1 = 
3.1. Tarjamah = 
3.2. Jenis kalimat = 
3.3. Awalan2 = 
3.6. Awalan3 = 
4.0. Sisipan1 = 
4.3. Sisipan2 = 
5.0. Akhiran1 = 
5.1. Tarjamah = 
5.2. Jenis kalimat = 
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = إِلَّا
6.1. Tarjamah = kecuali
6.2. Jenis kalimat = حرف
7.0. Akar kalimat = 
7.1. Tarjamah = 
7.2. Jenis kalimat = 

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

Wassalam


References:

  1. http://www.almaany.com/quran/2/34/7/
  2. http://corpus.quran.com/treebank.jsp?chapter=2&verse=34&token=6
  3. http://tanzil.net/#search/quran/إلّا

Sabtu, 01 Juli 2017

Q002034006 (Surat Al-Baqarah, Ayat ke-34, Kata "fasajaduu")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

قالَ يـٔادمُ أنبئهُم بأسمآئهِمْ ۖ فلمّآ أنبأَهُم بأسمآئهِمْ قالَ ألمْ أقُل لّكمْ إنّىٓ أعلمُ غيب السّمٰوٰتِ والْأرضِ وأعلمُ ما تبدُونَ وما كنتمْ تكتمُونَ (QS 2:33)

وإذْ قلنَا للملٓئكةِ اسجدُوا۟ لءادمَ فسجدُوٓا۟ إلّآ إبليسَ أبىٰ وٱستكبرَ وكانَ منَ الْكٰفرِينَ (QS 2:34)

Alhamdulillahi wasyukurillahi 'alaa ni'matillahi. Segala puji dan syukur bagi Allah atas segala nikhmat, baik nikhmat iman, nikhmat Islam dan nikhmat kelezatan dunia yang Allah berikan pada kita. Salawat dan salam kita ucapkan kepada junjungan kita, Nabi dan Rasul yang mulia Muhammad SAW dan keluarga Beliau, kepada para Sahabat RA, para Tabi'in, Tabiut Tabiahum dan kepada semua ummat Islam dimanapun berada sepanjang zaman. Semoga kita semua dapat senatiasa istiqamah menegakkan ajaran Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Ayat ke-34 surat Al-Baqarah ini terdiri dari beberapa bagian kalimat sebagai berikut: 
  • Dan (ingatlah) ketika = وإذْ
  • Kami berfirman = قلنَا
  • kepada para malaikat: = للملٓئكةِ
  • "Sujudlah kamu = اسجدُوا۟
  • kepada Adam," = لءادمَ
  • maka sujudlah mereka = فسجدُوٓا۟
  • kecuali Iblis; = إلّآ إبليسَ
  • ia enggan = أبىٰ
  • dan takabur = وٱستكبرَ
  • dan adalah ia = وكانَ
  • termasuk golongan orang-orang yang kafir. = منَ الْكٰفرِينَ

Jika Allah menghendaki atau insya Allah (إن شاء الله atau kalau dilatenkan "in syaa-a Allaah"), pada hari ini kita akan membahas kata ke-6 dari ayat ke-34 surat Al-Baqarah, yaitu kata fasajaduu (فَسَجَدُوٓاْ) = maka mereka (jama' mudzakkar telah) sujud.

Sebelumnya sudah kita bahas bahwa huruf fa (فَ) di dalam tata bahasa Arab atau ilmu nahwu bisa berperan sebagai berikut:
  1. Huruf 'athaf fa (فَ) = kemudian, yaitu huruf penghubung yang berurutan tanpa tenggang waktu dan bisa masuk ke isim atau fi'il.
  2. Huruf nashab atau sababiyah fa (فَ) = sehingga atau mengakibatkan, yaitu huruf yang masuk pada fi'il mudhari' kemudian menashabkan fi'il tersebut. Memberi faidah bahwa yang sebelumnya merupakan sebab bagi yang setelahnya dan harus didahului oleh thalab atau nafi. 
  3. Huruf ibtida' atau isti'naafiyah fa (فَ) = maka, yaitu yang terletak pada jawab syarat. 

Untuk mengingatkan kembali bahwa sebelumnya sudah kita bahas  wazan dari kata kerja fi'il bentuk ke-1 (dari 14) yaitu fi'il tsulatsi mujarrad shahih (AS1-AS8) sebagai berikut:
  1. AS1 = fa'ala (َفَعَل) - yaf'ulu (ُيَفْعُل) - uf'ul (اُفْعُلْ)
  2. AS2 = fa'ala (َفَعَل) - yaf'ilu (ُيَفْعِل) - if'il (اِفْعِلْ)
  3. AS3 = fa'ala (َفَعَل) - yaf'alu (ُيَفْعَل) - if'al (اِفْعَلْ)
  4. AS4 = fa'ila (َفَعِل) - yaf'alu (ُيَفْعَل) - if'al (اِفْعَلْ)
  5. AS5 = fa'ula (َفَعُل) - yaf'ulu (ُيَفْعُل) - uf'ul (اُفْعُلْ)
  6. AS6 = fa'ila (َفَعِل) - yaf'ilu (يَفْعِلُ) - if'il (اِفْعِلْ)
  7. AS7 = fa'ala (َفَعَل) - yaf'ulu (ُيَفْعُل) - uf'ul (اُفْعُلْ) atau yaf'ilu (ُيَفْعِل) - if'il (اِفْعِلْ)
  8. AS8 = fa'ala (َفَعَل) - yaf'alu (ُيَفْعَل) - if'al (اِفْعَلْ) atau yaf'ulu (ُيَفْعُل) - uf'ul (اُفْعُلْ)

Sebelumnya juga sudah kita bahas bahwa dhamir adalah Isim mabni yang menunjukkan kepada pihak yang berbicara atau yang diajak bicara atau pihak ke tiga. Berdasarkan penulisannya, dhamir ada tiga macam:

  1. Dhamir Munfashil adalah dhamir yang terpisah ketika dituliskan. Dhamir munfashil ada dua:
    a. Dhamir rafa’ munfashil, kedudukannya rafa’ sebagai mubtada’, khabar, fa’il atau naibul fa’il. 
b. Dhamir nashab munfashil, dii’rab pada posisi nashab maf’ul bih.

  1. Dhamir muttashil adalah dhamir yang tersambung ketika dituliskan. Dhamir muttashil ada tiga macam:
    a. Dhamir rafa’ muttashil, selalu bersambung dengan fi’il atau kana dan saudaranya.
b. Dhamir nashab muttashil, bersambung dengan fi’il atau huruf nashab inna dan saudaranya.
c. Dhamir jar muttashil, bersambung dengan isim atau huruf jar.

  1. Dhamir mustatir adalah dhamir yang tidak mempunyai bentuk yang kelihatan yang bisa diucapkan tapi tidak dituliskan.
    Dhamir-dhamir mustatir ada dua macam: 
a. Dhamir mustatir wujuban, adalah dhamir yang tidak bisa ditempati oleh isim zhahir.
b. Dhamir mustatir jawazan, adalah dhamir yang bisa ditempati oleh isim zhahir. Dhamir menjadi mustatir jawazan pada semua fi’il madhi dan fi’il mudhari’ yang disandarkan kepada orang ke tiga laki-laki atau perempuan tunggal (mufrad). 

Sebelumnya sudah kita bahas bahwa tanda asal-asal i’rab adalah harakat dan sukun. Maka tanda asal Rafa’ adalah Dhammah/tain (ــُــٌـ), tanda asal Nashab adalah Fathah/tain (ــَــًـ), tanda asal Jar adalah Kasrah/tain (ــِــٍــ) dan tanda asal Jazm adalah Sukun (ــْــ). Dengan demikian apabila ada kalimah yang tidak kebagian tanda i’rab asal (Harakth atau Sukun), maka bagiannya adalah tanda i’rab Pengganti Asal (Bisa juga Harakat, Huruf atau membuang Huruf).

Tanda pengganti i'rab asal adalah sebagai berikut:
  • Untuk rafa': Wau (و), Alif (ا) dan Nun (ن)
  • Untuk Nashab: Alif (ا), Ya (ي), Kasrah (ــِــ) dan membuang Nun (حذف النون)
  • Untuk Jar: Ya (ي) dan Fathah (ــَــ)
  • Untuk Jazm: membuang huruf (حذف).

Kata fasajaduu (فَسَجَدُوٓاْ) = maka mereka (jama' mudzakkar telah) sujud, terdiri dari dua bagian kata dan/atau huruf berikut:
  • Huruf fa (فَ) = maka, adalah huruf ibtida' atau isti'naafiyah yang terletak pada jawab syarat. 
  • Kata sajaduu (سَجَدُوْا) = mereka (jama' mudzakkar telah) sujud, adalah kata kerja fi'il madhi untuk faa'il atau pelaku hum (هُمْ) = mereka (laki2 jamak). Kata sajaduu (سَجَدُوْا) berasal dari atau tashrif lughawiyyah dari kata kerja fi'il madhi sajada (سَجَدَ) = dia laki2 tunggal telah sujud. Kata sajada (سَجَدَ) - yasjudu (يَسْجُدُ) adalah kata kerja fi'il tsulatsi mujarrad shahih bentuk ke-1 dari 14 dengan wazan fa'ala (َفَعَل) - yaf'ulu (ُيَفْعُل) atau indeks AS1.

Jadi kata sajadu (سَجَدُ) pada kata fasajaduu (فَسَجَدُوٓاْ) ayat ke-34 surat Al-Baqarah ini, adalah kata kerja fi'il madhi mabni dengan ciri dhammah yang nyambung dengan faa'il atau pelaku jamak al-waw alif (وْا) untuk dhamir muttashil hum (هُم) yang menempati posisi rafa'. Kata fasajaduu (فَسَجَدُوٓاْ) merupakan jawab syarat dari kata isim zhaman idz (إذ) sebelumnya. Kata fasajaduu (فَسَجَدُوٓاْ) di dalam Al-Qur'an terdapat sebanyak 5 kali, sedangkan asal kata sajad (سَجَد) dengan semua kemungkin awalan dan/atau akhiran terdapat sebanyak 68 kali dan akar kata sajada (سَجَدَ) terdapat sebanyak 92 kali.

1.0. Indek = Q002034006
1.1. No surat = 2
1.2. No ayat = 34
1.3. No kalimat = 6
2.0. Qur'anic = فَسَجَدُوْا
2.1. Tarjamah = maka mereka (jama' mudzakkar telah) sujud
2.2. Jenis kalimat = فعل
3.0. Awalan1 = فَ
3.1. Tarjamah = maka
3.2. Jenis kalimat = حرف
3.3. Awalan2 = 
3.4. Tarjamah = 
3.5. Jenis kalimat = 
3.6. Awalan3 = 
4.0. Sisipan1 =
4.3. Sisipan2 =
5.0. Akhiran1 = 
5.3. Akhiran2 = 
5.6. Akhiran3 = 
6.0. Asal kalimat = سَجَد
6.1. Tarjamah = dia (mufrad mudzakkar telah) sujud
6.2. Jenis kalimat = فعل
7.0. Akar kalimat = سَجَدَ
7.1. Tarjamah = dia laki2 tunggal telah sujud 
7.2. Jenis kalimat = فعل

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

Wassalam


References:
  1. http://www.kitabuallah.com/موسوعة-لسان-القرآن/58-السين/782-سَجَدَ-يَسْجُدُ-–-سُجُوْد-–-سَاجِد-سَاجِدِيْن-سُجَّد-سُجَّداً-مَسْجِد-مَسَاجِد
  2. http://www.almaany.com/quran/2/34/6/
  3. http://arabicverb.com/conjugate/سجد/AS1
  4. http://corpus.quran.com/treebank.jsp?chapter=2&verse=34&token=6
  5. http://tanzil.net/#search/quran/فسجدوا