Sabtu, 02 September 2017

Q002038006 (Surat Al-Baqarah, Ayat ke-38, Kata "ya-tiyannakum")

  1. Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

    بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

    فتلقَّىٰٓ ءادمُ مِن رّبّهِۦ كلمٰتٍ فتابَ عليهِ ۚ إنّهُۥ هوَ التّوّابُ الرّحيمُ (QS 2:37)

    قلنَا اهبطُوا۟ منهَا جميعًا ۖ فإمَّا يأتينَّكُم مّنِّى هدًى فمَن تبعَ هداىَ فلا خوفٌ عليهِمْ ولا همْ يحزنُونَ
    (QS 2:38)

    Alhamdulillahi wasyukurillahi 'alaa ni'matillahi. Segala puji dan syukur bagi Allah atas segala nikhmat, baik nikhmat iman, nikhmat Islam dan nikhmat kelezatan dunia yang Allah berikan pada kita. Salawat dan salam kita ucapkan kepada junjungan kita, Nabi dan Rasul yang mulia Muhammad SAW dan keluarga Beliau, kepada para Sahabat RA, para Tabi'in, Tabiut Tabiahum dan kepada semua ummat Islam dimanapun berada sepanjang zaman. Semoga kita semua dapat senatiasa istiqamah menegakkan ajaran Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

    Ayat ke-38 surat Al-Baqarah ini terdiri dari beberapa bagian kalimat sebagai berikut:
    • Kami berfirman: = قلنَا
    • "Turunlah kamu = اهبطُوا۟
    • semuanya dari surga itu! = منهَا جميعًا
    • Kemudian jika = فإمَّا
    • datang kepadamu, = يأتينَّكُم
    • petunjuk-Ku = مّنِّى هدًى 
    • maka barang siapa = فمَن
    • yang mengikuti = تبعَ
    • petunjuk-Ku, = هداىَ
    • niscaya tidak ada kekhawatiran = فلا خوفٌ
    • atas mereka, = عليهِمْ
    • dan tidak (pula) mereka = ولا همْ
    • bersedih hati". = يحزنُونَ

    Jika Allah menghendaki atau insya Allah (إن شاء الله atau kalau dilatenkan "in syaa-a Allaah"), pada hari ini kita akan membahas kata ke-6 dari ayat ke-38 surat Al-Baqarah, yaitu kata ya-tiyannakum (يَأْتِيَنَّكُمْ) = sungguh atau pasti (dia mufrad mudzakkar akan, sedang dan/atau senantiasa) datang kepadamu (jama' mudzakkar).

    Sebelumnya juga sudah kita bahas bahwa wazan dari kata kerja fi'il bentuk ke-1 (dari 14) yaitu fi'il tsulatsi mujarrad yang kemasukan dua huruf 'illat atau satu huruf 'illat dan hamzah atau disebut lafif (L) adalah sebagai berikut:
    1. AL1 = wa'iya (وَعِيَ) - ya'ii (يَعِيْ) - 'i (عِ)
    2. AL2 = wa'aa (وَعَى) - ya'ii (يَعِيْ) - 'i (عِ)
    3. AL3 = fawaa (فَوَى) - yafwii (يَفْوِيْ) - ifwi (اِفْوِ)         
    4. AL4 = fawiya (فَوِيَ) - yafwaa (يَفْوَى) - ifwa (اِفْوَ)
    5. AL5 = fayya (فَيَّ) - yafyaa (يَفْيَا) - ifya (اِفْيَ) atau fayiya (فَيِيَ)
    6. AL6 = faa-a (فَاءَ) - yafii-u (يَفِيْءُ) - fi- (فِئْ)
    7. AL7 = faa-a (فَاءَ) - yafaa-u (يَفَاءُ) - fa- (فَأْ)
    8. AL8 = faa-a (فَاءَ) - yafu-u (يَفُوْءُ) - fu- (فُؤْ)
    9. AL9 = fa-aa (فَأَى) - yafaa (يَفَى) - fa (فَ)
    10. ALA = a'aa (أَعَى) - ya-'ii (يَأْعِيْ) - i-'i (اِئْعِ)
    11. ALB = a'aa (أَعَى) - ya-'aa (يَأْعَى) - i-'a (اِئْعَ)

    Sebelumnya juga sudah kita bahas bahwa dhamir adalah Isim mabni yang menunjukkan kepada pihak yang berbicara atau yang diajak bicara atau pihak ke tiga. Berdasarkan penulisannya, dhamir ada tiga macam:

    1. Dhamir Munfashil adalah dhamir yang terpisah ketika dituliskan. Dhamir munfashil ada dua:
      a. Dhamir rafa’ munfashil, kedudukannya rafa’ sebagai mubtada’, khabar, fa’il atau naibul fa’il. 
    b. Dhamir nashab munfashil, dii’rab pada posisi nashab maf’ul bih.

    1. Dhamir muttashil adalah dhamir yang tersambung ketika dituliskan. Dhamir muttashil ada tiga macam:
      a. Dhamir rafa’ muttashil, selalu bersambung dengan fi’il atau kana dan saudaranya.
    b. Dhamir nashab muttashil, bersambung dengan fi’il atau huruf nashab inna dan saudaranya.
    c. Dhamir jar muttashil, bersambung dengan isim atau huruf jar.

    1. Dhamir mustatir adalah dhamir yang tidak mempunyai bentuk yang kelihatan yang bisa diucapkan tapi tidak dituliskan.
      Dhamir-dhamir mustatir ada dua macam: 
    a. Dhamir mustatir wujuban, adalah dhamir yang tidak bisa ditempati oleh isim zhahir.
    b. Dhamir mustatir jawazan, adalah dhamir yang bisa ditempati oleh isim zhahir. Dhamir menjadi mustatir jawazan pada semua fi’il madhi dan fi’il mudhari’ yang disandarkan kepada orang ke tiga laki-laki atau perempuan tunggal (mufrad). 

    Berikut kita bahas tentang huruf Nun taukid. Taukid adalah menguatkan atau memastikan makna dari satu kata/kalimat (bisa juga diartikan taukid menolak sangkaan dari pendengar atas makna lain yang mungkin terkandung dalam kalimat tersebut). Huruf Nun taukid berfungsi berfungsi menaukidkan kalimah Fi’il. Huruf Nun taukid itu ada dua bentuk :
    1. Nun Taukid Tsaqiliyah (berat karena bertasydid) mabni Fathah.
    2. Nun Taukid Khafifah (ringan karena sukun) mabni Sukun.

    Kedua Nun Taukid tersebut boleh digunakan untuk menaukidkan Fi’il Amar dengan tanpa syarat, tidak boleh dugunakan untuk menaukidkan Fi’il Madhi. Sedangkan untuk Fi’il Mudhari’ harus ditafsil dengan beberapa persyaratan.

    Penaukidan dengan Nun Taukid menimbulkan dua konsekuensi: Secara Makna dan Secara Lafazh.
    1. Secara Makna : Mengkususkan Fi’il Mudhari’ pada zaman Mustaqbal (akan datang), dan menguatkan mustaqbal untuk Fi’il Amar. Sedangkan makna Faidah Taukid, bahwa Nun Taukid Tsaqilah lebih kuat penaukidannya dari pada Nun Taukid Khafifah, sesuai kaidah : “penambahan bentuk umumnya menunjukkan penambahan pada makna”.
    2. Secara Lafazh : Menjadikan Fi’il Amar dan Fi’il Mudhari’ mabni Fathah, dengan ketentuan bersambung langsung tanpa ada pemisah.

    Hukum penaukidan Nun Taukid pada Fiil Mudhari’ sebagai berikut:
    1. Wajib Taukid, jika menjadi jawab qosam serta mencukupi tiga syarat :
    • harus bersambung dengan Lam Qosam
    • harus Mustaqbal
    • harus Mutsbat

    1. Mamnu’/dicegah Taukid, ada pada dua tempat :
    • Menjadi jawab qosam tapi tidak mencukupi tiga syarat diatas, demikian apabila ada pemisah antara Lam Qosam dengan Fiil Mudhari‘, atau Fi’ilnya digunakan untuk zaman Haal bukan Istiqbal, atau Fi’ilnya digunakan Manfi bukan Mutsbat, atau dengan membuang huruf nafi.
    • Apabila tidak diawali dengan sesuatu yg menyebabkan penaukidannnya berhukum Jaiz.

    1. Jaiz Taukid dan sering, demikian apabila diawali dengan IMMAA (IN syarthiyah yg diidghamkan pada MAA zaidah untuk taukid), atau diawali dengan adat Tolab yg berfaidah amar, nahi atau istifham dsb.

    1. Jaiz Taukid namun jarang adanya, demikian apabila Fi’il Mudhari’ jatuh sesudah MAA zaidah yg tidak diidghamkan pada IN syarthiyyah, sebagaimana orang arab mengatakan.

    Sebelumnya sudah kita bahas bahwa fungsi kata isim dhamir atau kata ganti orang muttashil ada tiga macam, sebagai berikut:
    • Dhamir rafa' muttashil, selalu bersambung dengan fi'il atau kana dan saudaranya.
    • Dhamir nashab muttashil, bersambung dengan fi'il atau huruf nashab inna dan saudaranya.
    • Dhamir jar muttashil, bersambung dengan isim atau huruf jar.

    Dhamir Muttashil berdasarkan pihak yang berbicara terdiri dari tiga jenis sebagai berikut:

    A. Pihak Ketiga (yang dibicarakan) atau Ghaib, yaitu:
    • Dia tunggal atau seorang laki-laki هُ - hu
    • Mereka (dual atau 2 orang laki-laki) هُمَا – humaa
    • Mereka (jamak atau 3 orang laki-laki atau lebih) هُمْ - hum
    • Dia (tunggal atau seorang perempuan) هَا - haa
    • Mereka (dual atau 2 orang perempuan) هُمَا – humaa
    • Mereka (jamak atau 3 orang perempuan atau lebih) هُنَّ - hunna

    B. Pihak Kedua (yang diajak bicara) atau Mukhatab, yaitu:
    • Kamu (tunggal atau seorang laki-laki) كَ – ka
    • Kalian (dual atau 2 orang laki-laki) كُمَا – kumaa
    • Kalian (jamak atau 3 orang laki-laki atau lebih) كٌمْ - kum
    • Kamu (tunggal atau seorang perempuan) كِ – ki
    • Kalian (dual atau 2 orang perempuan كُمَا – kumaa
    • Kalian (jamak 3 orang perempuan atau lebih) كٌنَّ -kunna

    C. Pihak Kesatu (yang berbicara) atau Mutakalim, yaitu:
    • Saya tunggal seorang laki-laki atau perempuan نِى - ni
    • Kami dua atau lebih laki-laki dan/atau perempuan نَا – na

    Sebelumnya sudah kita bahas bahwa tanda asal-asal i’rab adalah harakat dan sukun. Maka tanda asal Rafa’ adalah Dhammah/tain (ــُــٌـ), tanda asal Nashab adalah Fathah/tain (ــَــًـ), tanda asal Jar adalah Kasrah/tain (ــِــٍــ) dan tanda asal Jazm adalah Sukun (ــْــ). Dengan demikian apabila ada kalimah yang tidak kebagian tanda i’rab asal (Harakth atau Sukun), maka bagiannya adalah tanda i’rab Pengganti Asal (Bisa juga Harakat, Huruf atau membuang Huruf).

    Tanda pengganti i'rab asal adalah sebagai berikut:
    • Untuk rafa': Wau (و), Alif (ا) dan Nun (ن)
    • Untuk Nashab: Alif (ا), Ya (ي), Kasrah (ــِــ) dan membuang Nun (حذف النون)
    • Untuk Jar: Ya (ي) dan Fathah (ــَــ)
    • Untuk Jazm: membuang huruf (حذف).

    Kata ya-tiyannakum (يَأْتِيَنَّكُمْ) terdiri dari tiga bagian kata dan/atau huruf sebagai berikut:
    • Kata ya-tiya (يَأْتِيَ) aslinya ya-tii (يَأْتِي) = dia mufrad mudzakkar sedang, akan dan/atau senantiasa datang, adalah kata kerja fi'il mudhari' atau tasrif istilahiyyah dari kata ataa (أَتَى) = dia mufrad mudzakkar telah datang. Kata ataa (أَتَى) - ya-tii (يَأْتِي) adalah kata kerja fi'il tsulatsi mujarrad bentuk ke-1 dari 14 yang kemasukan huruf hamzah dan 'illat di posisi awal dan akhir atau lafif dengan wazan a'aa (أَعَى) - ya-'ii (يَأْعِيْ) atau indek ALA (atau AL10).
    • Huruf na (نَّ) = sungguh, adalah huruf Nun taukid tsaqiliyah (berat karena bertasydid) mabni Fathah.
    • Kata kum (كُمْ) = kamu (jamak laki2), adalah kata ganti orang pihak kedua (yang diajak bicara) nyambung atau dhamir muttashil mukhatab.

    Jadi kata ya-tiya (يَأْتِيَ) pada kata ya-tiyannakum (يَأْتِيَنَّكُمْ) dari ayat ke-38 surat Al-Baqarah ini adalah kata fi'il mudhari' mabni dengan ciri fathah karena disambung dengan huruf Nun taulid tsaqiliyah (نَّ) mabni fathah. Pelaku atau faa'il dari kata ya-tiya (يَأْتِيَ) adalah dhamir mustatir jawazan (yg bisa ditempati oleh isim zhahir) tuqadirah (yang diperkirakan) huwa (هو). Kata kum (كُمْ) adalah dhamir muttashil mabni yang menempati posisi nashab sebagai objek atau maf'ul bih dari kata ya-tiya (يأتيَ) sebelumnya. Jumlah fi'iliyyah ya-tiyannakum (يَأْتِيَنَّكُمْ) merupakan syarat dari huruf syarat in (إن) sebelumnya. Kata ya-tiyannakum (يَأْتِيَنَّكُمْ) di dalam Al-Qur'an terdapat sebanyak 3 kali, sedangkan asal kata ya-tii (يأتي) dengan segala kemungkinan awalan, akhiran dan/atau i'tab terdapat sebanyak 90 kali dan akar kata ataa (أَتَى ) terdapat sebanyak 553 kali.  

    1.0. Indek = Q002038006
    1.1. No surat = 2
    1.2. No ayat = 38
    1.3. No kalimat = 6
    2.0. Qur'anic = يَأْتِيَنَّكُمْ
    2.1. Tarjamah = sungguh (dia mufrad mudzakkar sedang, akan dan/atau senantiasa) datang kepadamu (jams' mudzakkar)
    2.2. Jenis kalimat = فعل
    3.0. Awalan1 = 
    3.1. Tarjamah = 
    3.2. Jenis kalimat = 
    3.3. Awalan2 = 
    3.6. Awalan3 = 
    4.0. Sisipan1 = 
    4.3. Sisipan2 = 
    5.0. Akhiran1 = نَّ
    5.1. Tarjamah = sungguh
    5.2. Jenis kalimat = حرف
    5.3. Akhiran2 = كُمْ
    5.4. Tarjamah = kamu (jama' mudzakkar)
    5.5. Jenis kalimat = إسم
    5.6. Akhiran3 =
    6.0. Asal kalimat = يَأْتِي
    6.1. Tarjamah = dia laki2 tunggal sedang, akan dan/atau memberi, mendatangi (datang) atau menunjukkan
    6.2. Jenis kalimat = فعل
    7.0. Akar kalimat = أَتَى
    7.1. Tarjamah = dia laki2 tunggal telah memberi, menunjukkan atau mendatangi (datang)
    7.2. Jenis kalimat = فعل

    الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

    Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

    Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

    Wassalam


    References:
    1. https://ar.m.wiktionary.org/wiki/أَتَى
    2. http://arabicverb.com/conjugate/أتي/AWA
    3. http://www.almaany.com/quran/2/38/6/
    4. http://corpus.quran.com/treebank.jsp?chapter=2&verse=38&token=5
    5. http://tanzil.net/#search/quran/يأتينّكم

Jumat, 01 September 2017

Q002038005 (Surat Al-Baqarah, Ayat ke-38, Kata "fa-immaa")

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

بسمِ اللهِ الرّحمٰنِ الرّحيمِ

فتلقَّىٰٓ ءادمُ مِن رّبّهِۦ كلمٰتٍ فتابَ عليهِ ۚ إنّهُۥ هوَ التّوّابُ الرّحيمُ (QS 2:37)

قلنَا اهبطُوا۟ منهَا جميعًا ۖ فإمَّا يأتينَّكُم مّنِّى هدًى فمَن تبعَ هداىَ فلا خوفٌ عليهِمْ ولا همْ يحزنُونَ
(QS 2:38)

Alhamdulillahi wasyukurillahi 'alaa ni'matillahi. Segala puji dan syukur bagi Allah atas segala nikhmat, baik nikhmat iman, nikhmat Islam dan nikhmat kelezatan dunia yang Allah berikan pada kita. Salawat dan salam kita ucapkan kepada junjungan kita, Nabi dan Rasul yang mulia Muhammad SAW dan keluarga Beliau, kepada para Sahabat RA, para Tabi'in, Tabiut Tabiahum dan kepada semua ummat Islam dimanapun berada sepanjang zaman. Semoga kita semua dapat senatiasa istiqamah menegakkan ajaran Islam sampai akhir hayat nanti, aamiin yaa Rabb al'aalamiin.

Ayat ke-38 surat Al-Baqarah ini terdiri dari beberapa bagian kalimat sebagai berikut:
  • Kami berfirman: = قلنَا
  • "Turunlah kamu = اهبطُوا۟
  • semuanya dari surga itu! = منهَا جميعًا
  • Kemudian jika = فإمَّا
  • datang kepadamu, = يأتينَّكُم
  • petunjuk-Ku = مّنِّى هدًى 
  • maka barang siapa = فمَن
  • yang mengikuti = تبعَ
  • petunjuk-Ku, = هداىَ
  • niscaya tidak ada kekhawatiran = فلا خوفٌ
  • atas mereka, = عليهِمْ
  • dan tidak (pula) mereka = ولا همْ
  • bersedih hati". = يحزنُونَ

Jika Allah menghendaki atau insya Allah (إن شاء الله atau kalau dilatenkan "in syaa-a Allaah"), pada hari ini kita akan membahas kata ke-5 dari ayat ke-38 surat Al-Baqarah, yaitu kata fa-immaa (فَإِمَّا) = kemudian jika.

Sebelumnya sudah kita bahas bahwa huruf fa (فَ) di dalam tata bahasa Arab atau ilmu nahwu bisa berperan sebagai berikut:
  1. Huruf 'athaf fa (فَ) = kemudian, yaitu huruf penguhubung yang berurutan tanpa tenggang waktu dan bisa masuk ke isim atau fi'il.
  2. Huruf nashab atau sababiyah fa (فَ) = sehingga atau mengakibatkan, yaitu huruf yang masuk pada fi'il mudhari' kemudian menashabkan fi'il tersebut. Memberi faidah bahwa yang sebelumnya merupakan sebab bagi yang setelahnya dan harus didahului oleh thalab atau nafi. 
  3. Huruf ibtida' atau isti'naafiyah fa (فَ) = maka, yaitu yang terletak pada jawab syarat. 

Sebelumnya juga sudah kita bahas bahwa huruf adat syarat merupakan huruf-huruf yang digunakan mensyaratkan sesuatu. Huruf adat syarat ada yang beramal (berfungsi) mempengaruhi i'rab kata sesudahnya dan ada juga yang tidak. Huruf adat syarat yang mempengaruhi i'rab hanya menjazamkan kata kerja fi'il saja. 

Huruf adat syarat ada beberapa yaitu sebagai berikut:
  1. Huruf adat syarat yang tidak beramal atau mempengaruhi i'rab kata setelahnya, yaitu:
  • Idza (إذا ) = apabila, bila
  • Lau (لو) = jikalau, seandainya, sekiranya.
  • Laulaa (لَوْلاَ) = seandainya. Asalnya Law (لو) ditambah dengan Laa (لا). Meski berupa gabungan namun maknanya serupa dangan Law (لو) saja 
  • Laumaa (لوما ) = seandainya - digunakan dengan arti dan fungsi yang serupa dengan lawlaa (لولا). 

  1. Sedangkan yang menjazamkan i'rab kata sesudahnya, yaitu:
  • In (إن) = jika 
  • Man (من) = siapa 
  • Aina (أين) = dimana
  • Mahmaa (مهما) = apapun
  • Ayyun (أي) = apa

Kata atau huruf adat syarat mempunyai fi'il syarat dan jawab syarat, untuk memenuhi kriteria syarat. Kalimat yang didahului dengan kata adat syarat dinamakan jumlah syarthiyyah. Apabila jawab syarat (jawab asy-syarath) dari jumlah syartiyyah dibuang, itu menunjukkan pentingnya masalah yang dibicarakan.

Alhamdulillah, sebelumnya sudah kita bahas bahwa huruf maa (ما) = apa, bisa berupa isim atau huruf. Sebagai isim ada empat kemungkinan sebagai berikut:
  • Isim maushul, digunakan untuk yang tidak berakal.
  • Isim istifham, digunakan untuk menanyakan sesuatu yang tidak berakal.
  • Isim syarat, menjazmkan dua fi’il, fi’il syarat dan jawabnya. 
  • Isim nakirah dengan makna “sesuatu yang agung” (Ma Ta’ajjubiyah), dii’rab pada posisi rafa’ mubtada’. 

Sedangkan maa (ما) sebagai huruf ada beberapa kemungkinan berikut:
  1. Huruf nafi yang masuk ke fi’il : Biasanya masuk ke fi’il madhi dan memberi faidah penafian pada masa lalu, sebagaimana juga masuk ke fi’il mudhari’ kemudian memberi faidah penafian pada masa sekarang atau akan datang. 

  1. Huruf nafi masuk ke mubtada’ dan khabar. 
  • Bisa berupa huruf yang beramal seperti laisa dengan syarat mubtada’ dikedepankan atas khabar dan penafiannya tidak dibatalkan dengan dimasukkannya illa (إلّا) sebelum khabar. 
  • Atau memberi faidah penafian ketika tidak tercukupinya syarat- syarat yang lalu dan tidak mempunyai pengaruh kepada i’rab mubtada’ dan khabar.

  1. Huruf zaidah atau tambahan yang menghalangi amal. 
  • Bisa bersambung dengan inna dan saudaranya (kemudian menghalangi inna dan saudaranya dari menashabkan isim inna dan jadilah isim setelahnya mubtada’ marfu’). 
  • Apabila bersambung dengan fi’il kasyura (كشر) = banyak, qalla (قلّ) = sedikit, dan thaala (طال) = lama, maka huruf tersebut mencegah fi’il-fi’il ini dari membutuhkan fa’il dan setelahnya adalah jumlah fi’liyah. 
  • Apabila bersambung dengan dua huruf jar kaf (ك) dan rubbi (ربّ) maka huruf maa membatalkan amal kedua huruf jar tersebut. Tidak menjarkan isim setelahnya.

  1. Huruf mashdari, adalah huruf maa tersebut bisa ditakwil (diartikan atau ditukar atau digantikan) dengan fi’il mudhari’ setelahnya sebagai mashdar. 
  • Cara membedakan dengan selain mashdari adalah apabila huruf maa ini dan kalimat setelahnya bisa ditakwilkan kepada mashdar maka disebut huruf mashdari, apabila tidak maka bukan huruf mashdari.
  • Huruf mashdariyah ada 7 sebagai berikut: Anna (َأَنّ), An (أَنْ), Kai (كَيْ), Lau (لَوْ), Hamzah (أ), Maa (مَا) dan Alladzi (الَّذِي).
  • Maa (ما) yang berfungsi sebagai mashdariyah, yaitu setelah huruf maa (مَا) terdapat fi’il dan huruf maa tersebut bisa digantikan dengan bentuk mashdar yang berasal dari fi'ilnya. Huruf mashdariyah menashabkan i'rab kata setelahnya.
  • Huruf maa (مَا) mashdariyah seperti ini tidak bisa diterjemahkan apa adanya, karena menjadi tidak lazim di dalam bahasa Indonesia, tetapi harus diterjemahkan sesuai dengan mashdarnya.

Kata fa-immaa (فَإِمَّا atau ditulis فَإِنْمَا) merupakan jumlah syartiyyah yang terdiri dari tiga bagian kata atau huruf berikut:
  • Huruf isti'nafiyah fa (فَ) = maka, yaitu huruf yang terdapat di awal kalimat.
  • Huruf adat syarat In (إِن) = jika, yaitu huruf syarat yang merupakan huruf-huruf yang digunakan mensyaratkan sesuatu dan menjazamkan i'rab kata sesudahnya.
  • Huruf maa (مَا) = apa, adalah huruf zaidah atau tambahan yang menghalangi amal. 

Jadi kata In (إِن) pada fa-immaa (فَإِمَّا) dari ayat ke-38 surat Al-Baqarah ini merupakan huruf syarat yang menjadikan i'rab kata setelahnya berakat sukun atau jazm, tapi karena ada huruf zaidah maa (مَا) menghalangi amal huruf syarat in (إن). Kata fa-immaa (فَإِمَّا) di dalam Al-Qur'an terdapat sebanyak 7 kali, sedangkan asal kata in (إن) terdapat sebanyak 1569 kali.

1.0. Indek = Q002038005
1.1. No surat = 2
1.2. No ayat = 38
1.3. No kalimat = 5
2.0. Qur'anic = فَإِمَّا
2.1. Tarjamah = maka atau kemudian jika
2.2. Jenis kalimat = حرف
3.0. Awalan1 = فَ
3.1. Tarjamah = maka
3.2. Jenis kalimat = حرف
3.3. Awalan2 = 
3.6. Awalan3 = 
4.0. Sisipan1 = 
4.3. Sisipan2 = 
5.0. Akhiran1 = مَا
5.1. Tarjamah = apa
5.2. Jenis kalimat = حرف
5.3. Akhiran2 =
5.6. Akhiran3 =
6.0. Asal kalimat = إِنْ
6.1. Tarjamah = jika 
6.2. Jenis kalimat = حرف
7.0. Akar kalimat = 
7.1. Tarjamah = 
7.2. Jenis kalimat = 

الحمدُ للّـهِ ربِّ العٰلمِينَ

Maha suci Engkau yaa Allah, dan segala puji bagi-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. Saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu yaa Allah.

Semoga bermamfa'at, wallahu a'lamu bish-shawaabi.

Wassalam


References:

  1. http://www.almaany.com/quran/2/38/5/
  2. http:corpus.quran.com/treebank.jsp?chapter=2&verse=38&token=5
  3. http://tanzil.net/#search/quran/فإِمَّا